“”Setua ini, ketika ruang esoterik nya semakin tinggi, kerinduannya akan berkunjung ke rumah Tuhan ingin cepat dikabulkan””
Memotong kayu, membersihkan selokan dan melakoni usaha barunya. Seorang tua yang tidak begitu tinggi, badan tidak begitu kurus, kulit coklat, kepala botak dan berjanggut keriting lebat itu beternak ikan-lele dan pengisian bensin kelas kampung. Senyumnya yang ramah sangat khas menyapa pengendara bila ingin membeli minyaknya. Juga memberikan kesempatan bagi orang-orang yang ingin melihat kolam ikan yang luasnya hanya berkisar 2m x 2m. Bahkan membolehkan sipenglihat memberikan pakan ikan yang sudah disiapkan disisi kolam.
Setua ini, ketika ruang esoterik nya semakin tinggi, kerinduannya akan berkunjung ke rumah Tuhan ingin dikabulkan. Bersama seorang temannya sekarang seusianya, pernah berjanji akan berangkat ke Tanah Suci. Ingin bersujud dan mensucikan diri ke hadapan Illahi. Dan membangun primodial suci yang hakiki tanpa batas. Muhammad Rasyid bin Abdullah Rusdy ingin mewujudkannya bersama Habib Mahmud bin Salahuddin Mahmud. Habib sendiri memiliki ladang dan peternakan yang cukup luas. Kebun sawitnya saja (yang sekarang berada di Jambi) cukup menghidupi segala kebutuhan keluarganya. Anak tertuanya laki-laki telah menamatkan Sarjana Ekonomi di Universitas Indonesia, anak keduanya perempuan dan sedang kuliah di sydney-Australia, anak ketiganya laki-laki sedang puber mengejar lawan jenisnya di bangku sekolah menengah atas di Jakarta. Istri Habib adalah keturunan bangsawan kaya (berasal dari keluarga penguasa – pada masanya, hingga menteri – pada masa sekarang) cantik, anggun dan cerdas. Sempurna apa yang telah diberikan oleh Allah SWT kepadanya.
Habib sibuk mengurusi ladang, kebun sawit dan peternakannya. Setiap hari dia menghitung dan menghitung. Mempekerjakan orang untuk memupuknya ladang dan kebun, memberikan pakan rumput terbaik untuk ternak-ternaknya. Tak menyisakan sedikit waktupun untuk berleha-leha. Hidup harus berjuang, Alloh sendiri marah bila ummatnya tidak mau berusaha.
Rasyid berkunjung dan menanyakan janji mereka. “Habib sahabatku, kapan kita pergi ke Mekkah?” semakin lama, rasanya semakin kecil kesempatan kita untuk menghadap” ujarnya lagi. “Saudaraku Rasyid, tahun ini aku belum bisa pergi kesana, aku harus mengurus ladang, kebun dan ternakku disini” tukas habib. “Sahabatku, tinggalkanlah semua itu untuk sementara, tak terasa rambut kita pun sudah memutih, jika ini terus yang kita cari, maka tak akan habis-habisnya” Rasyid memohon dengan suaranya yang berat namun lembut. Habib tercenung dan membenarkan apa yang diucapkan rasyid. Bahwa usia mereka semakin bertambah, maka semakin sedikitlah kesempatan untuk menunaikan Rukun Islam yang ke 5 tersebut. “baiklah saudaraku, sudikah kau menunggu barang 2 – 3 bulan ini, aku harus siapkan semua ini, agar tenang aku beribadah nanti disana, bagaimana??” Habib meminta pengertian sahabatnya itu. Mengelus janggut keritingnya, Rasyid mengangguk tanda setuju. “Baiklah sobat, 2 bulan lagi aku kesini, untuk memastikan hari keberangkatan kita.”.
Habib kembali menekuni dunianya, dunia kebun, ladang dan ternak juga angka-angka keuntungan. Begitu halnya dengan Rasyid. Kembali ia menekuni bisnis pengisian bensin dan kolam ikan. Anak sulungnya seorang perempuan, sudah tamat akuntansi dan sekarang ambil S2 Management di Malaysia, Anak ke 2 nya perempuan sudah menamatkan Sarjana pertanian yang menganggur. Istrinya keturunan petani kaya dikampungnya, menamatkan sekolah menengah pertama pada masa itu sudah jago kali. Dan rasyid sendiri hanya menamatkan SR (Sekolah Rakyat).
“Habib sahabatku, sudah mantapkan hati kita untuk menunaikan janji kita?” tanya rasyid suatu kali ke tempat Habib. Hal senada juga didapat Rasyid ketika berkunjung pertama kali ketempat Habib. Waktu keberangkatan ditunda 2 sampai dengan 3 bulan kedepan.
Rencana keberangkatan sudah 6 kali harus di undurkan, disebabkan Habib masih belum bisa memberikan segala kepengurusan Kebun, ladang, ternak bahkan urusan rumah tangga kepada istri dan anak-anaknya. Suatu kali rasyid datang dan marah, sorot matanya tajam, janggut keritingnya seakan menjadi keras.. “Sahabatku Habib, sampai kapanpun harta itu tak kan habis, untuk apa terus menggali rezeky yang sudah ditentukan-Nya. Tidak kah kau risau dengan usia dan segala kecukupanmu?” tinggi nada suara rasyid namun penuh wibawa. “Aku sudah berusaha untuk memantapkan hati untuk pergi wahai sahabatku, tapi aku masih belum yakin seutuhnya kepada keluargaku sendiri untuk dapat mengurus semua yang ada”. Tukas Habib. “Percayakan saja sama mereka, yakinlah bahwa mereka pasti bisa mengurusnya, aku pun begitu, segala urusan rumah dan segalanya ku percayakan kepada keluarga” kata Rasyid. “Apakah semua akan baik-baik saja jika kita pergi dan pulang nanti?” Habib semakin ragu. “Yakinlah wahai sahabatku habib, Alloh itu Pemberi Rezeky yang adil bagi ummatnya” rasyid meyakinkan Habib. “baiklah saudaraku, 2 minggu lagi kita pergi, kita bertemu disini untuk berangkat bersama” kata Habib.
Keuntungan Habib minggu ini cukup tinggi. Buah sawitnya sudah ditawar oleh perusahaan besar yang berasal dari surabaya. Ternaknya sebahagian terjual dengan harga tinggi, hasil panen kebunnya juga tidak mengecewakan. Keuntungan minggu ini mencapai 340 juta. Ia mengambil uang sebanyak 120 juta untuk biaya perjalanan, akomodasi dan konsumsi selama diperjalanan. Sisanya ia tabung dan titipkan kepada istrinya. Ia ajarkan kepada anak-anaknya bagaimana menanam dan kapan saja waktunya, kapan waktu memberi pupuk, kapan dan bagaimana memanen. Tak lupa juga ia mengajarkan bagaimana mengurus ternaknya. Ia berpesan kepada istri agar mengurus rumah dengan baik. Anak dan Istri sangat bersuka cita akan pesan-pesan sang suami.
Rasyid, telah mengumpulkan uang dari tahun kemaren. Bekal yang dia bawa hanya 60 juta. Dan tidak mengucapkan apapun kepada keluarganya selain “Do’akan saya dapat menyelesaikan ibadah saya dengan Mabrur”. Anak dan Istri rasyid menangis haru.
Sebelum keberangkatan, Habib kembali mengingatkan keluarganya untuk benar-benar mengurus semuanya. Rasyid meminta do’a kepada keluarganya. 2 keluarga sahabat dekat ini mengantar mereka berdua ke pelabuhan. Mereka berdua akan menaiki kapal laut menuju tanah suci Mekkah.
Di dalam kapal, mereka bertemu juga dengan banyak peziarah yang berasal dari daerah-daerah. Salah satunya Harun berasal dari dataran tinggi lampung, menjadi juru dakwah di desanya. Berkat kebaikan hati seorang pejabat daerahnya, Harun bersama 3 orang kawannya diberikan tiket, uang saku untuk perjalanan ke Mekkah. Rasyid dan Habib sholat lalu berdzikir setelah berbincang-bincang dan sahabat baru itu.
“Bagaimana caranya engkau mendapat uang untuk biaya kita ke Mekkah, saudaraku” tanya habib suatu kali kepada Rasyid. “Aku menabung saudaraku, hasil panen kolam kecil dan bensinku kutabung sedikit demi sedikit dan Alhamdulillah aku punya cukup uang untuk menunaikan hajatan kita” kata Rasyid. “Dan aku terus berdo’a dan berusaha agar memikili 3 kolam lagi yang ukurannya sama dan 2 buah pangkalan bensin yang sama dengan sekarang dan itu untuk mengajak anak dan istriku menunaikan rukun Islam ke 5 ini” kata rasyid sambil berbaring, meletakkan kedua tangannya dibelakang kepala sambil menutupkan mata.
Rasyid keluar dari kamar menuju ke geladak, memandang lautan luas sambil memikirkan apa yang sekarang tengah terjadi pada kebun, ladang dan peternakannya. Apakah anak-anaknya mengurus rumah, memotong rumput dihalaman, menata bunga-bunga dipekarangan.. Ahk semua terlintas dikepalanya.
7 hari menempuh perjalanan, kapal yang membawa mereka harus singgah disebuah pelabuhan di New Delhi. Mereka berdua menginap di sebuah losmen murah di sekitar pelabuhan. Hampir seluruh penumpang jurusan selanjutnya, akan menginap dikota tersebut. Sambil menunggu kapal yang mereka tumpangi akan membawa mereka ke kota suci Mekkah. Melihat Delhi, hampir tidak jauh beda dengan Indonesia. Kondisi sosial, korupsi sangat memprihatinkan. Mencari mesjid terdekat, berdiskusi dengan tokoh-tokoh ahmadiyah, sunni dan Syiah disitu. Harun juga terlihat disitu dalam sebuah diskusi-diskusi islamis.
4 hari di Delhi, kapal siap untuk berangkat. Kapal merubah arahnya tidak langsung ke pelabuhan di ArabSaudi melainkan ke Dubai. Untuk mengambil penumpang dan kargo pesanan dari Al-Saud. Perairan menuju Dubai tidak begitu baik, ombak laut sangat tinggi. Cuaca sangat buruk. Angin kencang sekali. Seluruh penumpang diharapkan untuk tidak berada di pinggir kapal, disarankan untuk masuk kedalam kabin kapal. Anak buah kapal berusaha agar tidak terjadi korban dicuaca buruk ini. Sedangkan sang Kapten, berupaya mengeluarkan kapal dari badai yang tak bersahabat ini. Habib dan Harun sedang berbincang-bincang. Rasyid berdzikir penuh khidmat.
Pelabuhan Dubai telah dicapai oleh kapal yang mengangkut mereka berdua, setelah melewati badai yang merupakan perwujudan dari Angin dan hujan. Mereka hanya menunggu 6 jam, begitu kata anak buah kapal (ABK) sewaktu kapal mulai bersandar didermaga. Para penumpang diperbolehkan untuk turun dari kapal. Habib dan Rasyid keluar dari kapal untuk meregangkan otot-otot yang tadi sempat strees disebabkan oleh badai tadi. Melalui pengeras suara, ABK menginformasikan bahwa kapal belum bisa bergerak pada 6 jam berikutnya, disebabkan ada kebocoran pada lambung dan galangan kapal. Kebocoran itu sekarang semakin lebar. Dibutuhkan waktu untuk memperbaikinya. ABK belum bisa memastikan berapa lama waktu untuk memperbaiki galangan dan lambung kapal yang bocor tersebut. (bersambung)..
Disebabkan kapal yang sedang sekarat tak bisa berlayar. Rasyid dan Habib, memutuskan untuk menetap di Dubai beberapa hari.?? Bagaimana kelanjutan perjalanan mereka menuju ke tanah suci?

sumber photo :http://www.dudung.net/images/mekah_berkilau.jpg