Tadi aku bertemu dengan sahabat lama. Sahabat ini bukan sembarang sahabat, dia adalah seorang pejuang HAM yang konsern membela hak-hak anak khususnya anak-anak yang dimarginalkan.
Pertemuan kami – bisa disebut dalam manuskrip celestene adalah peristiwa kebetulan pada wawasan pertama dalam manuskrip- tak disengaja. Aku ditugaskan oleh kantorku untuk menghadiri sebuah pertemuan untuk mendesign satu konsep pencegahan dan penanganan anak-anak jalanan disalah satu kota besar di Indonesia (maaf disini aku tak bisa menyebutkan nama kota tersebut, untuk menjaga privasi temanku tersebut). Bolak balik aku disalah satu hotel yang ditunjuk sebagai tempat pertemuan. Tanya sana tanya sini tentang tempat pertemuan tersebut. Recepsionist tak banyak membantu. Dengan bersungut aku menelphone panitia yang mengundang organisasiku. Ternyata panitia yang ku telephone tersebut menjelaskan bahwa pertemuan diundur sampai waktu yang belum ditentukan. Dia mengatakan lagi bahwa pemunduran waktu sudah diinformasikan kepada masing-masing organisasi. Walah, kenapa organisasiku tak memberitahu.. Dasar!!!
Setelah mengucapkan terimakasih kepada panitia lewat telephone dan orang hotel yang sedari tadi ikut mengantar ku kesana kemari. Aku bergegas menuju parkiran, dimana tempat sepeda motorku yang menunggu dengan sabar. Belum sampai ke pintu parkiran. Aku langsung disapa seorang pemuda.
“comrade!!! Hoi comrade!!!”*)
Menoleh ke arah suara. Ternyata sang pemilik suara aku sangat kenal. Dengan gembira aku langsung mendatangi, menyalam dan memeluknya. Terlihat lusuh baju yang dipakainya, terlihat kusut rambutnya, smakin kurus tubuhnya, yang dahulu dia memiliki postur tubuh yang atletis (idaman semua pria lah pokoknya).
Aku mengambil inisiatif untuk mengajak ngopi di salah satu warung kopi yang tak jauh dari hotel tersebut. Percakapan kami dimulai dengan basa-basi, bertanya dan bercerita tentang kehidupan keluarga. Kebetulan sebelum aku menikah, dia sudah menikah duluan. Dan aku sangat kenal dan dekat dengan keluarganya.
Setelah sampai diwarung kopi dan memesan. Percakapan lebih serius. Dia membuka cerita, bahwa dia sudah tidak bekerja lagi diorganisasinya yang dulu dianggapnya sebagai tempat berjuang untuk membela hak-hak anak. Menurutnya, diorganisasinya sudah tidak memiliki idealism berjuang lagi, yang ada adalah para pekerja. Orang-orang diorganisasinya sekarang sudah sangat individualis, matrealistis dan pragmatis. Semuanya harus diukur dengan uang.
Dia kesal dan marah dengan kawan seorganisasinya, yang dulu sama-sama membangun organisasi tersebut dengan keringat, darah dan airmata. Ketika pada masa mapan sekarang, malah dia dianggap tidak memberikan kontribusi apapun. Misalnya persoalan salary saja, dia harus disamakan dengan members organisasi yang baru masuk. Menurutnya, dengan salary yang dikasih saja sudah tak cukup untuk menghidupi anak dan istri, ditambah disama ratakan dengan orang baru, tentu saja membuat dia semakin tidak dihargai oleh kawan-kawan seperjuangannya, kebetulan beberapa dari mereka bekerja disebuah organisasi internasional yang sudah tentu mendapatkan salary standart internasional.
Pernah dia minta izin untuk masuk ke lembaga international, tetapi kawan-kawannya melarang dengan alasan jika dia keluar, siapa yang akan menjaga basis. Dengan berat hati dia urungkan niat untuk keluar. Semakin lama pengambil kebijakan diorganisasinya sudah mulai tidak fair. Organisasi sudah tidak ada uang. Organisasi sudah tidak bisa membayar salary membersnya. Tetapi (ini masih menurutnya) jika ada kepentingan pengambil kebijakan tersebut, misalnya memberikan uang kepada orang-orang partai (yang kebetulan waktu itu anaknya berulang tahun) dengan mudahnya. Dan kebetulan pula, pada masa itu sekitar 5 tahun yang lalu pengambil kebijakan yang note bene adalah kawan seperjuangannya bergabung dengan salah satu partai politik besar di Indonesia. Sehingga untuk urusan partai didahulukan dari pada kepentingan members organisasinya.
Pada puncaknya, dia menanyakan soal budgeting organisasi. Kenapa mereka selalu berlaku tidak adil pada members. Pengambil kebijakan tidak memberikan argumentasi apapun. Yang jelas mau dikronfrontir bagaimanapun, para members yang dibawah garis koordinasi dan komando pengambil kebijakan tidak bisa melakukan apapu.
Langkah terbaik yang dilakukannya adalah keluar dari ketidak berpihakan tersebut. Beberapa orang yang se ide dan merasakan hal yang sama dengannya mengambil langkah yang sama. Lalu membentuk satu organisasi kecil yang masih mengusung issue yang sama yaitu anak. Ternyata di organisasi yang baru dibangunnyapun, menunjukkan etiket tak baik. Kembali dia dicurangi.
Miris mendengarkan kisahnya. Dan terbayang dikepalaku, bagaimana anaknya minta mainan, atau istrinya mengomel karena beras sudah tak ada dan hutang menumpuk diwarung. Pertemuan ini aku hanya menjadi pendengar aktif. Aku tak mampu berkata dan memberikan komentar. Sebab aku ingat sahabatku ini, adalah seorang pejuang anak yang tangguh. Pada masa lajangnya, dia hidup dijalanan bersama anak-anak jalanan yang sampai sekarang menjadi persoalan besar negeri ini. Pada masa dia membangun organisasinya, tidak makan, tidak dibayar, berhadapan dengan pelaku kekerasan terhadap anak jalanan seperti preman dan polisi (pada masa itu satpol PP belum dibentuk) dihadapinya dengan berani. Idealisme membela kaum yang lemah tidak bisa ditawar lagi. Sekarang kuyu, lesu dan sepertinya semangat juangnya sudah terbang dan menghilang diawang-awang.
““Sekarang, aku rindu masa-masa dulu. Dimana semua orang berjuang tanpa pamrih, dimana orang-orang memiliki kebersamaan atas susah dan senang””
“Dulu, orang-orang menjunjung tinggi nilai-nilai persamaan dan kebersamaan, menghargai karya-karya yang dihasilkan dan tidak merendahkan harkat martabat manusia”
“Dan sekarang, aku tak mau tenggelam dalam jargon-jargon sialan yang dulu pernah kita gaungkan”
Aku senyap seribu bahasa, tak mampu meredakan kisahnya yang penuh dengan api-api kekecewaan. Ucapan-ucapannya menikam dalam, menembus usus-usus perutku lalu membentuk sungai-sungai yang dialiri oleh darah-darah segar. Aku terduduk lemas memikirkan peristiwa tidak disengaja ini.
Untuk meredakan amarah dan bisa membantu perekonomiannya dan juga bisa membangkit kembali api semangat perjuanganya, ku tawarkan dia untuk bergabung dengan komunitasku (dia juga tahu tentang komunitasku ini). Harapanku dia bisa kembali hidup seperti sediakala. Menggagas ide, menjalankan lalu mengevaluasinya. Dengan singkat dia bilang “Bung, logika tanpa logistic – Omong KOSONG”.. sudah tentu dia tahu, bahwa komunitasku ini bukanlah sebuah komunitas yang bisa menjawab keresahannya, sebab komunitasku tak memiliki sumberdaya ekonomi yang bisa membantu dapur keluarganya. “aku mau yang real aja, keluargaku butuh makan, bukan lagi idealism kesepian ini” Ujarnya.
Tanpa sadar obrolan kami memakan waktu 5 jam. Dia minta izin harus pulang, sebab rumahnya sekitar 120 km dari kotaku (dia tinggal disalah satu daerah tinggkat II Provinsiku dan bersebelahan dengan kotaku). Setelah membungkuskan makanan untuk anaknya, aku menyelipkan beberapa lembar uang untuknya. Dia tercenung, mimik mukanya langsung berubah serius, dan bilang “maaf sudah merepotkanmu, jujur saja aku rindu masa-masa dulu” Lalu dia meneteskan airmata. Lalu ku rangkul dia. Menenangkannya. Aku jadi benar-benar sedih. Tak habis fikir dengan semua ini.
Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kisah ini harus dialami oleh mereka-mereka yang dulu berjuang digaris depan, membela ketidakberpihakan, siap mempertaruhkan nyawa dengan kepentingan orang lain, mengesampingkan kepentingan pribadi demi sebuah pencerahan tatanan social yang lebih adil, beradab dan demokratis. Tak mampu aku untuk menganalisa semua fenomena ini. Dan aku yakin ada tangan besi dan kuat dibalik semua ini. Sebuah kekuatan yang menciptakan orang-orang menjadi individualis dan matrealistis.
Pelanggan yang ada diwarung, semua memperhatikan kami. Kami tak perduli. Lalu ku papah dia menuju sepeda motor bututnya diparkiran. Disekanya airmata, lesu dia menaiki dan menstater sepeda motor bututnya. “Terimakasih comrade, aku lega telah menunjukkan kelemahanku dan menceritakan semua kisah pedih yang ku pendam selama bertahun-bertahun. Kini sesak dan penat dikepalaku sudah mulai berkurang. Sekali lagi terimakasih karena telah mendengarkan cerita tak mutu ini.” Lalu dia pergi menghilang diantara kegemerlapan angkuh kota ini.
Aku hanya bisa merenungi kisah ini. Menjadi pembelajaran berharga buatku yang masih berkutat dan mengusung cita-cita kami bersama dulu.
Dalam hati aku berusaha menghibur diri “Sahabat, setidaknya aku dan kawan-kawan muda masih meneruskan cita-cita kita dulu. Semoga tidak kandas dihantam riak-riak darah dari pisau yang kau hujam ditubuhku lewat kisahmu.” Lalu larut dalam perjalanan menuju sebuah kenyataan yang berbeda lagi yaitu “kerajaan kecilku”. (alley)
*)comrade / komrad = kawan seperjuangan (selalu digunakan bagi aktifis berhaluan kiri yang menentang rezim dan ketidak berpihakan).
