“”TANAH SUCI”"

“”Setua ini, ketika ruang esoterik nya semakin tinggi, kerinduannya akan berkunjung ke rumah Tuhan ingin cepat dikabulkan””
Memotong kayu, membersihkan selokan dan melakoni usaha barunya. Seorang tua yang tidak begitu tinggi, badan tidak begitu kurus, kulit coklat, kepala botak dan berjanggut keriting lebat itu beternak ikan-lele dan pengisian bensin kelas kampung. Senyumnya yang ramah sangat khas menyapa pengendara bila ingin membeli minyaknya. Juga memberikan kesempatan bagi orang-orang yang ingin melihat kolam ikan yang luasnya hanya berkisar 2m x 2m. Bahkan membolehkan sipenglihat memberikan pakan ikan yang sudah disiapkan disisi kolam.
Setua ini, ketika ruang esoterik nya semakin tinggi, kerinduannya akan berkunjung ke rumah Tuhan ingin dikabulkan. Bersama seorang temannya sekarang seusianya, pernah berjanji akan berangkat ke Tanah Suci. Ingin bersujud dan mensucikan diri ke hadapan Illahi. Dan membangun primodial suci yang hakiki tanpa batas. Muhammad Rasyid bin Abdullah Rusdy ingin mewujudkannya bersama Habib Mahmud bin Salahuddin Mahmud. Habib sendiri memiliki ladang dan peternakan yang cukup luas. Kebun sawitnya saja (yang sekarang berada di Jambi) cukup menghidupi segala kebutuhan keluarganya. Anak tertuanya laki-laki telah menamatkan Sarjana Ekonomi di Universitas Indonesia, anak keduanya perempuan dan sedang kuliah di sydney-Australia, anak ketiganya laki-laki sedang puber mengejar lawan jenisnya di bangku sekolah menengah atas di Jakarta. Istri Habib adalah keturunan bangsawan kaya (berasal dari keluarga penguasa – pada masanya, hingga menteri – pada masa sekarang) cantik, anggun dan cerdas. Sempurna apa yang telah diberikan oleh Allah SWT kepadanya.
Habib sibuk mengurusi ladang, kebun sawit dan peternakannya. Setiap hari dia menghitung dan menghitung. Mempekerjakan orang untuk memupuknya ladang dan kebun, memberikan pakan rumput terbaik untuk ternak-ternaknya. Tak menyisakan sedikit waktupun untuk berleha-leha. Hidup harus berjuang, Alloh sendiri marah bila ummatnya tidak mau berusaha.
Rasyid berkunjung dan menanyakan janji mereka. “Habib sahabatku, kapan kita pergi ke Mekkah?” semakin lama, rasanya semakin kecil kesempatan kita untuk menghadap” ujarnya lagi. “Saudaraku Rasyid, tahun ini aku belum bisa pergi kesana, aku harus mengurus ladang, kebun dan ternakku disini” tukas habib. “Sahabatku, tinggalkanlah semua itu untuk sementara, tak terasa rambut kita pun sudah memutih, jika ini terus yang kita cari, maka tak akan habis-habisnya” Rasyid memohon dengan suaranya yang berat namun lembut. Habib tercenung dan membenarkan apa yang diucapkan rasyid. Bahwa usia mereka semakin bertambah, maka semakin sedikitlah kesempatan untuk menunaikan Rukun Islam yang ke 5 tersebut. “baiklah saudaraku, sudikah kau menunggu barang 2 – 3 bulan ini, aku harus siapkan semua ini, agar tenang aku beribadah nanti disana, bagaimana??” Habib meminta pengertian sahabatnya itu. Mengelus janggut keritingnya, Rasyid mengangguk tanda setuju. “Baiklah sobat, 2 bulan lagi aku kesini, untuk memastikan hari keberangkatan kita.”.
Habib kembali menekuni dunianya, dunia kebun, ladang dan ternak juga angka-angka keuntungan. Begitu halnya dengan Rasyid. Kembali ia menekuni bisnis pengisian bensin dan kolam ikan. Anak sulungnya seorang perempuan, sudah tamat akuntansi dan sekarang ambil S2 Management di Malaysia, Anak ke 2 nya perempuan sudah menamatkan Sarjana pertanian yang menganggur. Istrinya keturunan petani kaya dikampungnya, menamatkan sekolah menengah pertama pada masa itu sudah jago kali. Dan rasyid sendiri hanya menamatkan SR (Sekolah Rakyat).
“Habib sahabatku, sudah mantapkan hati kita untuk menunaikan janji kita?” tanya rasyid suatu kali ke tempat Habib. Hal senada juga didapat Rasyid ketika berkunjung pertama kali ketempat Habib. Waktu keberangkatan ditunda 2 sampai dengan 3 bulan kedepan.
Rencana keberangkatan sudah 6 kali harus di undurkan, disebabkan Habib masih belum bisa memberikan segala kepengurusan Kebun, ladang, ternak bahkan urusan rumah tangga kepada istri dan anak-anaknya. Suatu kali rasyid datang dan marah, sorot matanya tajam, janggut keritingnya seakan menjadi keras.. “Sahabatku Habib, sampai kapanpun harta itu tak kan habis, untuk apa terus menggali rezeky yang sudah ditentukan-Nya. Tidak kah kau risau dengan usia dan segala kecukupanmu?” tinggi nada suara rasyid namun penuh wibawa. “Aku sudah berusaha untuk memantapkan hati untuk pergi wahai sahabatku, tapi aku masih belum yakin seutuhnya kepada keluargaku sendiri untuk dapat mengurus semua yang ada”. Tukas Habib. “Percayakan saja sama mereka, yakinlah bahwa mereka pasti bisa mengurusnya, aku pun begitu, segala urusan rumah dan segalanya ku percayakan kepada keluarga” kata Rasyid. “Apakah semua akan baik-baik saja jika kita pergi dan pulang nanti?” Habib semakin ragu. “Yakinlah wahai sahabatku habib, Alloh itu Pemberi Rezeky yang adil bagi ummatnya” rasyid meyakinkan Habib. “baiklah saudaraku, 2 minggu lagi kita pergi, kita bertemu disini untuk berangkat bersama” kata Habib.
Keuntungan Habib minggu ini cukup tinggi. Buah sawitnya sudah ditawar oleh perusahaan besar yang berasal dari surabaya. Ternaknya sebahagian terjual dengan harga tinggi, hasil panen kebunnya juga tidak mengecewakan. Keuntungan minggu ini mencapai 340 juta. Ia mengambil uang sebanyak 120 juta untuk biaya perjalanan, akomodasi dan konsumsi selama diperjalanan. Sisanya ia tabung dan titipkan kepada istrinya. Ia ajarkan kepada anak-anaknya bagaimana menanam dan kapan saja waktunya, kapan waktu memberi pupuk, kapan dan bagaimana memanen. Tak lupa juga ia mengajarkan bagaimana mengurus ternaknya. Ia berpesan kepada istri agar mengurus rumah dengan baik. Anak dan Istri sangat bersuka cita akan pesan-pesan sang suami.
Rasyid, telah mengumpulkan uang dari tahun kemaren. Bekal yang dia bawa hanya 60 juta. Dan tidak mengucapkan apapun kepada keluarganya selain “Do’akan saya dapat menyelesaikan ibadah saya dengan Mabrur”. Anak dan Istri rasyid menangis haru.
Sebelum keberangkatan, Habib kembali mengingatkan keluarganya untuk benar-benar mengurus semuanya. Rasyid meminta do’a kepada keluarganya. 2 keluarga sahabat dekat ini mengantar mereka berdua ke pelabuhan. Mereka berdua akan menaiki kapal laut menuju tanah suci Mekkah.
Di dalam kapal, mereka bertemu juga dengan banyak peziarah yang berasal dari daerah-daerah. Salah satunya Harun berasal dari dataran tinggi lampung, menjadi juru dakwah di desanya. Berkat kebaikan hati seorang pejabat daerahnya, Harun bersama 3 orang kawannya diberikan tiket, uang saku untuk perjalanan ke Mekkah. Rasyid dan Habib sholat lalu berdzikir setelah berbincang-bincang dan sahabat baru itu.
“Bagaimana caranya engkau mendapat uang untuk biaya kita ke Mekkah, saudaraku” tanya habib suatu kali kepada Rasyid. “Aku menabung saudaraku, hasil panen kolam kecil dan bensinku kutabung sedikit demi sedikit dan Alhamdulillah aku punya cukup uang untuk menunaikan hajatan kita” kata Rasyid. “Dan aku terus berdo’a dan berusaha agar memikili 3 kolam lagi yang ukurannya sama dan 2 buah pangkalan bensin yang sama dengan sekarang dan itu untuk mengajak anak dan istriku menunaikan rukun Islam ke 5 ini” kata rasyid sambil berbaring, meletakkan kedua tangannya dibelakang kepala sambil menutupkan mata.
Rasyid keluar dari kamar menuju ke geladak, memandang lautan luas sambil memikirkan apa yang sekarang tengah terjadi pada kebun, ladang dan peternakannya. Apakah anak-anaknya mengurus rumah, memotong rumput dihalaman, menata bunga-bunga dipekarangan.. Ahk semua terlintas dikepalanya.
7 hari menempuh perjalanan, kapal yang membawa mereka harus singgah disebuah pelabuhan di New Delhi. Mereka berdua menginap di sebuah losmen murah di sekitar pelabuhan. Hampir seluruh penumpang jurusan selanjutnya, akan menginap dikota tersebut. Sambil menunggu kapal yang mereka tumpangi akan membawa mereka ke kota suci Mekkah. Melihat Delhi, hampir tidak jauh beda dengan Indonesia. Kondisi sosial, korupsi sangat memprihatinkan. Mencari mesjid terdekat, berdiskusi dengan tokoh-tokoh ahmadiyah, sunni dan Syiah disitu. Harun juga terlihat disitu dalam sebuah diskusi-diskusi islamis.
4 hari di Delhi, kapal siap untuk berangkat. Kapal merubah arahnya tidak langsung ke pelabuhan di ArabSaudi melainkan ke Dubai. Untuk mengambil penumpang dan kargo pesanan dari Al-Saud. Perairan menuju Dubai tidak begitu baik, ombak laut sangat tinggi. Cuaca sangat buruk. Angin kencang sekali. Seluruh penumpang diharapkan untuk tidak berada di pinggir kapal, disarankan untuk masuk kedalam kabin kapal. Anak buah kapal berusaha agar tidak terjadi korban dicuaca buruk ini. Sedangkan sang Kapten, berupaya mengeluarkan kapal dari badai yang tak bersahabat ini. Habib dan Harun sedang berbincang-bincang. Rasyid berdzikir penuh khidmat.
Pelabuhan Dubai telah dicapai oleh kapal yang mengangkut mereka berdua, setelah melewati badai yang merupakan perwujudan dari Angin dan hujan. Mereka hanya menunggu 6 jam, begitu kata anak buah kapal (ABK) sewaktu kapal mulai bersandar didermaga. Para penumpang diperbolehkan untuk turun dari kapal. Habib dan Rasyid keluar dari kapal untuk meregangkan otot-otot yang tadi sempat strees disebabkan oleh badai tadi. Melalui pengeras suara, ABK menginformasikan bahwa kapal belum bisa bergerak pada 6 jam berikutnya, disebabkan ada kebocoran pada lambung dan galangan kapal. Kebocoran itu sekarang semakin lebar. Dibutuhkan waktu untuk memperbaikinya. ABK belum bisa memastikan berapa lama waktu untuk memperbaiki galangan dan lambung kapal yang bocor tersebut. (bersambung)..
Disebabkan kapal yang sedang sekarat tak bisa berlayar. Rasyid dan Habib, memutuskan untuk menetap di Dubai beberapa hari.?? Bagaimana kelanjutan perjalanan mereka menuju ke tanah suci?

sumber photo :http://www.dudung.net/images/mekah_berkilau.jpg

Logika tanpa logistic – “Omong KOSONG” – keluh kawanku..

Tadi aku bertemu dengan sahabat lama. Sahabat ini bukan sembarang sahabat, dia adalah seorang pejuang HAM yang konsern membela hak-hak anak khususnya anak-anak yang dimarginalkan.
Pertemuan kami – bisa disebut dalam manuskrip celestene adalah peristiwa kebetulan pada wawasan pertama dalam manuskrip- tak disengaja. Aku ditugaskan oleh kantorku untuk menghadiri sebuah pertemuan untuk mendesign satu konsep pencegahan dan penanganan anak-anak jalanan disalah satu kota besar di Indonesia (maaf disini aku tak bisa menyebutkan nama kota tersebut, untuk menjaga privasi temanku tersebut). Bolak balik aku disalah satu hotel yang ditunjuk sebagai tempat pertemuan. Tanya sana tanya sini tentang tempat pertemuan tersebut. Recepsionist tak banyak membantu. Dengan bersungut aku menelphone panitia yang mengundang organisasiku. Ternyata panitia yang ku telephone tersebut menjelaskan bahwa pertemuan diundur sampai waktu yang belum ditentukan. Dia mengatakan lagi bahwa pemunduran waktu sudah diinformasikan kepada masing-masing organisasi. Walah, kenapa organisasiku tak memberitahu.. Dasar!!!
Setelah mengucapkan terimakasih kepada panitia lewat telephone dan orang hotel yang sedari tadi ikut mengantar ku kesana kemari. Aku bergegas menuju parkiran, dimana tempat sepeda motorku yang menunggu dengan sabar. Belum sampai ke pintu parkiran. Aku langsung disapa seorang pemuda.
“comrade!!! Hoi comrade!!!”*)
Menoleh ke arah suara. Ternyata sang pemilik suara aku sangat kenal. Dengan gembira aku langsung mendatangi, menyalam dan memeluknya. Terlihat lusuh baju yang dipakainya, terlihat kusut rambutnya, smakin kurus tubuhnya, yang dahulu dia memiliki postur tubuh yang atletis (idaman semua pria lah pokoknya).
Aku mengambil inisiatif untuk mengajak ngopi di salah satu warung kopi yang tak jauh dari hotel tersebut. Percakapan kami dimulai dengan basa-basi, bertanya dan bercerita tentang kehidupan keluarga. Kebetulan sebelum aku menikah, dia sudah menikah duluan. Dan aku sangat kenal dan dekat dengan keluarganya.
Setelah sampai diwarung kopi dan memesan. Percakapan lebih serius. Dia membuka cerita, bahwa dia sudah tidak bekerja lagi diorganisasinya yang dulu dianggapnya sebagai tempat berjuang untuk membela hak-hak anak. Menurutnya, diorganisasinya sudah tidak memiliki idealism berjuang lagi, yang ada adalah para pekerja. Orang-orang diorganisasinya sekarang sudah sangat individualis, matrealistis dan pragmatis. Semuanya harus diukur dengan uang.
Dia kesal dan marah dengan kawan seorganisasinya, yang dulu sama-sama membangun organisasi tersebut dengan keringat, darah dan airmata. Ketika pada masa mapan sekarang, malah dia dianggap tidak memberikan kontribusi apapun. Misalnya persoalan salary saja, dia harus disamakan dengan members organisasi yang baru masuk. Menurutnya, dengan salary yang dikasih saja sudah tak cukup untuk menghidupi anak dan istri, ditambah disama ratakan dengan orang baru, tentu saja membuat dia semakin tidak dihargai oleh kawan-kawan seperjuangannya, kebetulan beberapa dari mereka bekerja disebuah organisasi internasional yang sudah tentu mendapatkan salary standart internasional.
Pernah dia minta izin untuk masuk ke lembaga international, tetapi kawan-kawannya melarang dengan alasan jika dia keluar, siapa yang akan menjaga basis. Dengan berat hati dia urungkan niat untuk keluar. Semakin lama pengambil kebijakan diorganisasinya sudah mulai tidak fair. Organisasi sudah tidak ada uang. Organisasi sudah tidak bisa membayar salary membersnya. Tetapi (ini masih menurutnya) jika ada kepentingan pengambil kebijakan tersebut, misalnya memberikan uang kepada orang-orang partai (yang kebetulan waktu itu anaknya berulang tahun) dengan mudahnya. Dan kebetulan pula, pada masa itu sekitar 5 tahun yang lalu pengambil kebijakan yang note bene adalah kawan seperjuangannya bergabung dengan salah satu partai politik besar di Indonesia. Sehingga untuk urusan partai didahulukan dari pada kepentingan members organisasinya.
Pada puncaknya, dia menanyakan soal budgeting organisasi. Kenapa mereka selalu berlaku tidak adil pada members. Pengambil kebijakan tidak memberikan argumentasi apapun. Yang jelas mau dikronfrontir bagaimanapun, para members yang dibawah garis koordinasi dan komando pengambil kebijakan tidak bisa melakukan apapu.
Langkah terbaik yang dilakukannya adalah keluar dari ketidak berpihakan tersebut. Beberapa orang yang se ide dan merasakan hal yang sama dengannya mengambil langkah yang sama. Lalu membentuk satu organisasi kecil yang masih mengusung issue yang sama yaitu anak. Ternyata di organisasi yang baru dibangunnyapun, menunjukkan etiket tak baik. Kembali dia dicurangi.
Miris mendengarkan kisahnya. Dan terbayang dikepalaku, bagaimana anaknya minta mainan, atau istrinya mengomel karena beras sudah tak ada dan hutang menumpuk diwarung. Pertemuan ini aku hanya menjadi pendengar aktif. Aku tak mampu berkata dan memberikan komentar. Sebab aku ingat sahabatku ini, adalah seorang pejuang anak yang tangguh. Pada masa lajangnya, dia hidup dijalanan bersama anak-anak jalanan yang sampai sekarang menjadi persoalan besar negeri ini. Pada masa dia membangun organisasinya, tidak makan, tidak dibayar, berhadapan dengan pelaku kekerasan terhadap anak jalanan seperti preman dan polisi (pada masa itu satpol PP belum dibentuk) dihadapinya dengan berani. Idealisme membela kaum yang lemah tidak bisa ditawar lagi. Sekarang kuyu, lesu dan sepertinya semangat juangnya sudah terbang dan menghilang diawang-awang.
““Sekarang, aku rindu masa-masa dulu. Dimana semua orang berjuang tanpa pamrih, dimana orang-orang memiliki kebersamaan atas susah dan senang””
“Dulu, orang-orang menjunjung tinggi nilai-nilai persamaan dan kebersamaan, menghargai karya-karya yang dihasilkan dan tidak merendahkan harkat martabat manusia”
“Dan sekarang, aku tak mau tenggelam dalam jargon-jargon sialan yang dulu pernah kita gaungkan”
Aku senyap seribu bahasa, tak mampu meredakan kisahnya yang penuh dengan api-api kekecewaan. Ucapan-ucapannya menikam dalam, menembus usus-usus perutku lalu membentuk sungai-sungai yang dialiri oleh darah-darah segar. Aku terduduk lemas memikirkan peristiwa tidak disengaja ini.
Untuk meredakan amarah dan bisa membantu perekonomiannya dan juga bisa membangkit kembali api semangat perjuanganya, ku tawarkan dia untuk bergabung dengan komunitasku (dia juga tahu tentang komunitasku ini). Harapanku dia bisa kembali hidup seperti sediakala. Menggagas ide, menjalankan lalu mengevaluasinya. Dengan singkat dia bilang “Bung, logika tanpa logistic – Omong KOSONG”.. sudah tentu dia tahu, bahwa komunitasku ini bukanlah sebuah komunitas yang bisa menjawab keresahannya, sebab komunitasku tak memiliki sumberdaya ekonomi yang bisa membantu dapur keluarganya. “aku mau yang real aja, keluargaku butuh makan, bukan lagi idealism kesepian ini” Ujarnya.
Tanpa sadar obrolan kami memakan waktu 5 jam. Dia minta izin harus pulang, sebab rumahnya sekitar 120 km dari kotaku (dia tinggal disalah satu daerah tinggkat II Provinsiku dan bersebelahan dengan kotaku). Setelah membungkuskan makanan untuk anaknya, aku menyelipkan beberapa lembar uang untuknya. Dia tercenung, mimik mukanya langsung berubah serius, dan bilang “maaf sudah merepotkanmu, jujur saja aku rindu masa-masa dulu” Lalu dia meneteskan airmata. Lalu ku rangkul dia. Menenangkannya. Aku jadi benar-benar sedih. Tak habis fikir dengan semua ini.
Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kisah ini harus dialami oleh mereka-mereka yang dulu berjuang digaris depan, membela ketidakberpihakan, siap mempertaruhkan nyawa dengan kepentingan orang lain, mengesampingkan kepentingan pribadi demi sebuah pencerahan tatanan social yang lebih adil, beradab dan demokratis. Tak mampu aku untuk menganalisa semua fenomena ini. Dan aku yakin ada tangan besi dan kuat dibalik semua ini. Sebuah kekuatan yang menciptakan orang-orang menjadi individualis dan matrealistis.
Pelanggan yang ada diwarung, semua memperhatikan kami. Kami tak perduli. Lalu ku papah dia menuju sepeda motor bututnya diparkiran. Disekanya airmata, lesu dia menaiki dan menstater sepeda motor bututnya. “Terimakasih comrade, aku lega telah menunjukkan kelemahanku dan menceritakan semua kisah pedih yang ku pendam selama bertahun-bertahun. Kini sesak dan penat dikepalaku sudah mulai berkurang. Sekali lagi terimakasih karena telah mendengarkan cerita tak mutu ini.” Lalu dia pergi menghilang diantara kegemerlapan angkuh kota ini.
Aku hanya bisa merenungi kisah ini. Menjadi pembelajaran berharga buatku yang masih berkutat dan mengusung cita-cita kami bersama dulu.
Dalam hati aku berusaha menghibur diri “Sahabat, setidaknya aku dan kawan-kawan muda masih meneruskan cita-cita kita dulu. Semoga tidak kandas dihantam riak-riak darah dari pisau yang kau hujam ditubuhku lewat kisahmu.” Lalu larut dalam perjalanan menuju sebuah kenyataan yang berbeda lagi yaitu “kerajaan kecilku”. (alley)

*)comrade / komrad = kawan seperjuangan (selalu digunakan bagi aktifis berhaluan kiri yang menentang rezim dan ketidak berpihakan).

grafis untuk anak jalanan kota Medan

3 orang anak jalanan yang tergabung dalam komunitas musik the baMBoes yang difasilitasi oleh Yayasan KKSP, mengikuti magang design disalah satu percetakan (edvertising) di Medan. Kegiatan tersebut dimulai pada tanggal 10 Maret 2010.

Praktek belajar langsung ini diharapkan dapat menambah ketrampilan anak-anak jalanan untuk menuju pemandiriannya. “Kami belajar cara mendesign logo cover buku, sablon baju, kops surat, banner dan spanduk juga backdrop panggung” kata Iwan Tungir (24) – salah seorang peserta magang.

“Semua dilakukan secara digital, sebab kalau kita tidak memahami pola dan tekhnik pemakaian digital kita akan terus ketinggalan, semoga dengan semua ini kehidupan menjadi semakin lebih baik” sambut Rahmat (22) menimpali.

Persoalan sosial anak jalanan memang telah menjadi momok. Masyarakat dominan belum dapat menerima anak jalanan secara keseluruhan. Apalagi ditambah dandanan, tingkah pola dan lingkungan sosial anak jalanan itu sendiri menyebabkan streotype terus berlanjut. Oleh sebab itu Yayasan KKSP dan the baMBoes memiliki visi yang sama untuk mengembalikan anak jalanan kedalam lingkup masyarakat dominan lewat karya-karya.

Anak Jalanan Gelar Pameran Lukisan di Medan

Senin, 03-12-2007 13:37:19

Berada dalam rutinitas di jalanan, tak membuat anak jalanan kehilangan kreativitas. Di sela kegiatan utamanya mengamen, menyemir dan membersihkan kaca mobil, sebagian menyempatkan diri membuat lukisan. Hasil karya mereka dipamerkan di Galeri Tondi, salah satu galeri seni terkemuka di Medan. Pameran bertajuk “Coretan Merdeka” ini memamerkan sekitar 70 lukisan. Pada pembukaan di Galeri Tondi di Jalan Keladi Buntu, Medan Baru, Medan, Sabtu (1/12/2007), sejumlah kalangan berdatangan untuk menyaksikan lukisan mereka. Termasuk sejumlah warga negara asing yang bermukim di Medan. Grace Siregar, kurator dan juga pengelola Galeri Tondi menyatakan, event ini sengaja digelar untuk menutup rangkaian kegiatan tahun 2007 galeri tersebut. Pameran “Coretan Merdeka” yang dimulai pada hari ini, akan berakhir pada 30 Desember mendatang. “Anak-anak jalanan yang melakukan pameran ini berjumlah 40 orang anak. Mereka berusia antara 12 tahun hinga 23 tahun. Mereka berasal dari berbagai lokasi keramaian di Medan,” kata Grace kepada wartawan. Anak-anak jalanan itu antara lain biasa bekerja Terminal Amplas, Pinang Baris dan Aksara Plaza dan sebagainya. Hampir keseluruhannya merupakan anak dampingan Yayasan KKSP (Pusat Pendidikan dan Informasi Hak Anak) Medan, sebuah lembaga nirlaba yang fokus menangani masalah-masalak anak. Secara umum lukisan mereka mengisahkan tentang kehidupan yang mereka jalani. Ada lukisan mengenai sungai, angkutan kota, maupun lukisan abstrak. Namun menurut Grace, justru lukisan mereka punya daya tarik luar biasa. Berbeda dengan para pelukis lainnya yang terjebak dengan masalah teknis, anak-anak jalanan ini justru menyajikan lukisan yang kuat. “Saya kira pameran ini baik. Untuk melihat bagaimana mereka juga bisa berkreasi,” kata Susan, warga negara Swiss yang menyaksikan pembukaan pameran tersebut. Dia datang bersama suami Cladius dan anak-anaknya. Sejumlah pengunjung lain, termasuk kalangan perupa dan seniman lukis lain, juga menunjukkan ekspresi positif yang sama. Lukisan karya mereka yang dituangkan melalui wadah kertas dan kain, mencerminkan dunia anak jalanan. Agaknya itu juga yang membuat sejumlah pengunjung tertarik untuk membeli lukisan tersebut. Tiga warga negara asing langsung membeli lukisan tersebut. Masing-masing lukisan Eko yang berjudul Topeng Manusia, serta dua lukisan Dedek Canang yang berjudul Anak Punk dan Merah Hitam (kegelapan dan keberanian). (Keterangan Foto: Seorang pengunjung memperhatikan sebuah lukisan anak jalanan Medan yang dipamerkan di Galeri Tondi, Medan, Sabtu (1/12/2007). Lukisan yang dimnpamerkan umumnya menunjukkan kehidupan sehari-hari anak jalanan.)

Teks Pidato Pelantikan Presiden AS Barack Hussein Obama

Jakarta (ANTARA News) – Berikut teks lengkap pidato pelantikan Presiden Amerika Serikat Barack Hussein Obama, Selasa 20 Januari waktu AS, di Capitol Hill, Washington DC dari siaran pers Kedutaan Besar AS di Jakarta, Rabu.

Rekan-rekan sebangsa dan setanah air:

Saya berdiri di sini hari ini terenyak oleh tugas di depan kita, berterima kasih atas kepercayaan yang Anda berikan, dan teringat akan pengorbanan oleh leluhur kita. Saya berterima kasih kepada Presiden Bush atas jasanya pada bangsa kita, dan juga atas kemurahan hati dan kerjasama yang ditunjukkannya pada masa transisi ini.

Sudah 44 warga Amerika yang diambil sumpahnya sebagai presiden. Kata-kata dalam sumpah jabatan itu telah diucapkan dimasa kemakmuran dan dimasa damai. Namun, ada kalanya sumpah jabatan kepresidenan itu diambil di tengah-tengah situasi gawat dan badai yang berkecamuk. Pada saat-saat demikian, Amerika terus melaksanakan tugasnya bukan hanya karena ketrampilan atau visi mereka yang memegang jabatan tinggi, tetapi karena kita rakyat Amerika tetap setia pada cita-cita leluhur kita dan setia pada dokumen-dokumen yang dirumuskan oleh para pendiri negara kita.

Demikianlah adanya, dan memang selalu demikianlah yang harus dilakukan oleh generasi orang Amerika yang sekarang ini. Memang sudah dipahami bahwa kita sedang berada di tengah krisis. Bangsa kita kini sedang terlibat perang, melawan jaringan kekerasan dan kebencian yang jauh jangkauannya. Ekonomi kita sangat lemah, akibat ketamakan dan tindakan tidak bertanggung jawab oleh sebagian pihak, tetapi juga karena kegagalan kita secara kolektif untuk membuat pilihan-pilihan sulit, dan kegagalan kita mempersiapkan bangsa bagi abad baru. Banyak rumah yang disita, lapangan kerja menurun drastis, bisnis gulung tikar.

Asuransi kesehatan kita terlalu mahal, murid-murid sekolah kita banyak yang gagal, dan setiap hari terlihat bukti bahwa cara-cara kita menggunakan energi justru memperkuat musuh-musuh kita dan mengancam planet kita. Semua itu merupakan indikator krisis, yang didasarkan pada data dan statistik. Yang kurang bisa diukur tetapi tidak kurang pentingnya adalah melemahnya keyakinan di seluruh pelosok Amerika – kekhawatiran terus-menerus bahwa kemerosotan Amerika tak terelakkan lagi, dan bahwa generasi berikutnya harus mengurangi harapannya. Hari ini saya katakan kepada kalian bahwa tantangan-tantangan yang kita hadapi adalah nyata. Tantangan ini serius dan banyak. Tidak akan mudah diatasi dan tidak bisa diatasi dalam jangka pendek.Tetapi ketahuilah ini, Amerika, semua tantangan ini akan kita hadapi.

Pada hari ini, kita berkumpul karena kita lebih memilih harapan daripada ketakutan, kesatuan tujuan daripada konflik dan pertentangan. Pada hari ini, kita berkumpul untuk menyatakan berakhirnya keluhan-keluhan kecil dan janji-janji palsu, saling-tuduh dan berbagai dogma lusuh yang sudah terlalu lama mencekik politik kita. Negara kita masih muda, dengan meminjam kata-kata dalam Kitab Suci, saatnya sudah tiba kita menepiskan sifat ke kanak-kanakan.

Saatnya sudah tiba untuk menandaskan lagi semangat kita yang tegar, memilih jalan sejarah yang lebih baik, melanjutkan pemberian berharga, gagasan mulia yang diteruskan dari generasi ke generasi: yaitu janji yang diberikan Tuhan bahwa semua kita setara, kita semua bebas, dan semua layak memperoleh kesempatan untuk mengejar kebahagiaan sepenuhnya. Dalam menandaskan kebesaran bangsa kita, kita memahami bahwa kebesaran tak pernah diberikan begitu saja. Mencapai kebesaran harus dengan kerja-keras. Perjalanan yang kita tempuh tak pernah mengambil jalan pintas. Perjalanan kita bukan bagi mereka yang tidak-tabah, bukan bagi mereka yang suka bermalas-malas daripada bekerja, atau bagi yang hanya mengejar kekayaan dan menjadi terkenal. Perjalanan kita adalah bagi mereka yang berani mengambil risiko, mereka yang melakukan hal-hal baru dan membuat barang-barang baru. Sebagian mereka menjadi terkenal, tetapi acap kali laki-laki dan perempuan tak dikenal dalam pekerjaan mereka, yang telah mengusung kita di atas jalan berbatu-batu menuju kemakmuran dan kebebasan. Demi kita, mereka mengemas harta milik mereka yang tak seberapa dan menyeberangi samudera untuk mencari kehidupan baru. Demi kita, mereka banting-tulang dengan upah minim dan menetap di Pantai Barat, menahankan pukulan cambuk dan mencangkul tanah yang keras. Demi kita, mereka bertempur dan mati, di tempat-tempat seperti Concord dan Gettysburg, Normandy dan Khe San. Lelaki dan perempuan ini terus menerus berjuang dan berkorban dan bekerja hingga kulit tangan mereka mengelupas, agar kita bisa mengecap kehidupan yang lebih baik. Mereka melihat Amerika lebih besar dari jumlah ambisi kita secara perorangan, lebih besar daripada perbedaan status keluarga, atau kekayaan ataupun partai atau kelompok. Perjalanan inilah yang kita teruskan hari ini. Kita masih merupakan negara paling makmur dan paling berpengaruh di Bumi. Para pekerja kita tidak kurang produktifnya dibandingkan dengan waktu ketika krisis ini dimulai. Otak kita masih seinventif seperti pada awal krisis ini, barang dan jasa kita masih diperlukan seperti pada minggu lalu atau bulan lalu, atau tahun lalu. Kapasitas kita tetap tak berkurang. Tetapi masa kita untuk berdiam diri, melindungi kepentingan sempit dan menunda keputusan-keputusan yang tak menyenangkan, sudah harus berlalu. Mulai hari ini, kita harus bangkit sendiri, membersihkan debu yang menempel, dan mulai lagi bekerja memperbaharui Amerika. Karena kemana saja kita melihat, ada yang harus kita lakukan. Keadaan ekonomi mengharuskan tindakan yang berani dan segera, dan kita akan bertindak bukan hanya untuk menciptakan lapangan kerja baru, tetapi untuk meletakkan dasar bagi pertumbuhan. Kita akan membangun jalan dan jembatan, jaringan listrik dan jaringan digital yang menyuburkan perdagangan dan mengikat kita bersama. Kita akan memulihkan sains ke tempat yang selayaknya, dan menggunakan kehebatan teknologi untuk meningkatkan mutu perawatan kesehatan dan menurunkan biayanya. Kita akan memanfaatkan tenaga matahari, tenaga angin dan lainnya untuk menjalankan mobil-mobil dan pabrik-pabrik kita. Dan kita akan mengubah sekolah dan perguruan tinggi dan universitas untuk memenuhi tuntutan era baru. Semua ini bisa kita lakukan. Dan semua ini akan kita lakukan. Tentu, ada orang yang meragukan skala ambisi kita – dengan mengatakan sistem ekonomi kita tidak bisa mentolerir terlalu banyak rencana besar. Daya ingat mereka tidak cukup lama. Mereka telah melupakan apa yang dilakukan negara ini, apa yang bisa dicapai oleh laki-laki dan perempuan yang hidup bebas, apabila imajinasi digabung demi tujuan bersama, dan kebutuhan digabung dengan ketabahan. Yang tidak dipahami oleh mereka yang sinis adalah tanah tempat mereka berpijak telah bergeser, bahwa argumen basi dalam politik yang telah begitu lama menyita waktu kita – tidak lagi berlaku. Pertanyaan yang kita ajukan sekarang bukan apakah pemerintah kita terlalu besar atau terlalu kecil, tetapi apakah pemerintah kita bisa berfungsi, apakah pemerintah bisa menolong para keluarga mencari pekerjaan dengan upah yang layak, asuransi kesehatan yang terjangkau, dan pensiun yang berarti. Apabila jawabannya – ya, kita berniat untuk terus bergerak maju. Apabila jawabannya tidak, programnya akan dihentikan. Dan mereka yang mengatur uang rakyat akan dimintai pertanggung-jawabannya – supaya mengeluarkan uang secara bijaksana, mengubah kebiasaan buruk, dan melakukan bisnis kita dengan jujur – karena hanya dengan demikian kita bisa memulihkan kepercayaan penting antara rakyat dan pemerintah. Kita juga tidak mempertanyakan apakah kekuatan pasar bebas itu baik atau buruk. Kekuatan pasar bisa membina kekayaan dan memperluas kebebasan kita. Tetapi krisis ini telah mengingatkan kita bahwa tanpa pengawasan yang ketat, kekuatan pasar bebas itu bisa terlepas dari kontrol, dan suatu bangsa tidak bisa makmur untuk waktu lama apabila hanya mementingkan orang kaya. Keberhasilan ekonomi kita tidak hanya tergantung pada besarnya Produk Domestik Bruto, tapi seberapa jauh meluasnya kemakmuran itu, pada kemampuan kita memberikan kesempatan kepada tiap orang yang mau bekerja, dan bukan karena belas kasihan karena itulah jalan yang paling pasti guna mencapai kemakmuran bersama. Mengenai pertahanan kita bersama, kita menolak dan menganggap palsu pilihan antara keselamatan dan idaman atau cita-cita kita. Para Pendiri Negara ini dihadapkan pada bahaya yang tak terbayangkan, menyusun sebuah piagam untuk menjamin supremasi hukum dan hak setiap orang, sebuah piagam yang diperkuat oleh perjuangan generasi demi generasi. Semua cita-cita ini masih menerangi dunia, dan kita tidak akan meninggalkannya demi mencapai penyelesaian yang cepat. Karena itu, bagi semua orang dan pemerintahan yang menyaksikan pelantikan hari ini, mulai dari kota-kota yang termegah sampai ke desa kecil di mana ayah saya dilahirkan, ketahuilah bahwa Amerika adalah sahabat setia negara dan sahabat setiap lelaki, setiap perempuan, dan setiap anak yang menghendaki masa depan yang damai dan bermartabat, dan bahwa kita siap untuk memimpin lagi. Ingatlah bahwa generasi-generasi sebelumnya menundukkan fasisme dan komunisme bukan hanya dengan misil dan tank, tetapi dengan aliansi yang kokoh dan keyakinan besar. Mereka memahami bahwa kekuatan saja tidak bisa melindungi kita, dan bahwa kekuatan itu tidak memberi kita hak berbuat sekehendak hati kita. Sebaliknya mereka tahu bahwa kekuatan kita tumbuh melalui penggunaan yang bijaksana, keamanan kita berasal dari adilnya tujuan kita, kekuatan contoh yang kita berikan, dan kerendahan hati serta kesanggupan menahan diri. Kita adalah penjaga warisan ini. Dibimbing oleh prinsip-prinsip ini, sekali lagi kita bisa menghadapi ancaman-ancaman baru itu yang menuntut upaya lebih besar, bahkan kerja-sama dan pemahaman lebih besar antar-negara. Kita akan mulai secara bertanggung jawab meninggalkan Irak kepada bangsa Irak, dan menempa perdamaian di Afghanistan. Bersama teman-teman lama dan bekas saingan kita, Amerika akan bekerja tanpa lelah untuk mengurangi ancaman nuklir, dan mengurangi bahaya pemanasan bumi. Kita tidak akan minta maaf atas cara kehidupan Amerika, tidak akan goyah dalam mempertahankannya, dan bagi mereka yang hendak mendorong tujuan mereka dengan terror dan membantai orang-orang tak bersalah, kami katakan kepada mereka, semangat kita lebih kuat dan tidak terpatahkan, kalian tidak akan unggul dari kami, dan kalian akan kami kalahkan. Kami sadar bahwa warisan bangsa yang beraneka warna adalah suatu kekuatan, dan bukannya sebuah kelemahan. Bangsa kita terdiri dari orang Kristen dan Islam, Yahudi dan Hindu, dan bahkan orang-orang yang tidak percaya pada Tuhan. Kita telah dibentuk oleh campuran berbagai bahasa dan kebudayaan, yang berasal dari segala pelosok dunia. Dan karena kita telah merasakan pahitnya perang saudara dan segregasi rasial, dan keluar dari masa kegelapan menjadi sebuah bangsa yang lebih kuat dan lebih bersatu, kita yakin bahwa pada suatu hari nanti semua rasa kebencian akan hilang, bahwa semua garis-garis pembatas antar suku bangsa akan luluh, dan bahwa dunia ini akan menjadi semakin kecil. Kerendahan hati kita akan tampak dengan sendirinya, dan Amerika harus memainkan perannya dalam menyongsong era perdamaian yang baru. Bagi dunia Muslim, kami akan mencari cara baru ke depan berdasarkan pada kepentingan bersama dan saling menghormati. Bagi para pemimpin dunia yang berusaha menanam bibit konflik, atau menyalahkan dunia Barat atas kesulitan-kesulitan yang dialami masyarakatnya, ketahuilah bahwa rakyat Anda akan menilai Anda pada apa yang Anda bangun, bukan pada apa yang Anda musnahkan. Bagi mereka yang hendak menggenggam kekuasaan melalui korupsi dan kekejian dan membungkam orang yang tidak setuju pada kebijakan mereka, yakinlah bahwa kalian berada pada sisi yang keliru, tapi kami akan mengulurkan tangan jika kalian tidak lagi mengepalkan tinju. Bagi rakyat negara-negara miskin, kami berjanji akan bekerja bersama kalian untuk membuat ladang kalian subur dan membuat air bersih mengalir, untuk memberi makan tubuh yang kelaparan, dan memenuhi kebutuhan mental. Dan kepada negara-negara seperti negara kita yang relatif menikmati kemakmuran, kita tidak bisa lagi bersikap tidak peduli pada kesengsaraan di luar perbatasan kita, dan kita tidak bisa menghabiskan sumber-sumber dunia tanpa mempedulikan dampaknya. Karena dunia sudah berubah dan kita harus berubah dengannya. Sambil kita mempertimbangkan jalan yang terbentang di depan kita, kita mengingat dengan rasa terima kasih orang-orang Amerika yang gagah berani, yang pada saat ini, berpatroli di gurun dan gunung yang sangat jauh. Ada sesuatu yang hendak mereka katakan pada kita hari ini, seperti yang dibisikkan sepanjang masa oleh para pahlawan kita yang kini dimakamkan di Arlington. Kita menghormati mereka bukan hanya karena mereka menjaga kebebasan kita tetapi karena mereka menunjukkan arti pengorbanan, kesediaan untuk mencari arti yang lebih besar dari diri mereka sendiri. Dan pada saat ini, saat yang akan tercatat dalam sejarah generasi – semangat inilah yang harus ada pada kita semua. Sebanyak apapun yang bisa dan harus dilakukan pemerintah, pada akhirnya kepercayaan dan tekad rakyat Amerika-lah yang diandalkan negara ini. Misalnya kebaikan hati untuk menampung orang yang kena musibah walaupun tidak kita kenal, atau pekerja yang tanpa pamrih rela mengurangi jam kerja mereka daripada melihat seorang teman di-PHK, yang membuat kita keluar dari kegelapan. Adalah keberanian para pemadam kebakaran untuk menerobos masuk ke rumah yang penuh asap, dan juga kesediaan orang tua untuk membesarkan anak, yang kelak akan menentukan nasib kita. Tantangan kita mungkin baru. Alat-alat yang kita gunakan untuk mengatasinya mungkin baru. Tetapi pada nilai-nilai itulah keberhasilan kita bergantung – yaitu kerja keras dan kejujuran, ketabahan dan berlaku secara adil, toleransi dan rasa ingin tahu, kesetiaan dan patriotisme – semua itu sudah lama ada. Semua itu memang benar. Semua itu telah menjadi kekuatan kemajuan sepanjang sejarah. Jadi yang dituntut sekarang adalah kembalinya kepada nilai-nilai ini. Apa yang diperlukan dari kita sekarang ini adalah era pertanggungjawaban yang baru – suatu pengakuan, dari tiap orang Amerika, bahwa kita mempunyai kewajiban bagi diri kita sendiri, bagi negara kita dan bagi dunia, kewajiban yang kita lakukan dengan senang hati, bukan dengan bersungut-sungut, karena kita tahu tidak ada yang lebih memuaskan bagi jiwa kita, yang merupakan definisi karakter kita, daripada memberikan segalanya untuk menyelesaikan tugas yang sulit. Inilah pengorbanan dan janji kewarganegaraan. Inilah yang menjadi sumber keyakinan kita – pengetahuan bahwa Tuhan meminta kita untuk memperbaiki keadaan yang tidak pasti. Inilah arti kebebasan dan kepercayaan kita- mengapa laki-laki dan perempuan dan anak-anak dari tiap ras dan tiap keyakinan bisa ikut dalam perayaan di lapangan yang indah ini, dan mengapa seorang lelaki yang ayahnya lebih 60 tahun lalu mungkin tidak dilayani di restoran, sekarang bisa berdiri di depan anda untuk diambil sumpahnya sebagai presiden. Jadi marilah kita hari ini mengenang siapa kita dan sejauh mana jalan yang kita tempuh. Pada tahun kelahiran Amerika, pada bulan yang terdingin, sekelompok patriot berkumpul di depan api unggun yang mulai padam di bantaran sungai yang beku. Ibukota telah ditinggalkan, musuh terus maju, salju tampak berlumuran darah. Pada saat itu, ketika nasib revolusi kita sangat diragukan, bapak bangsa kita memerintahkan supaya kalimat berikut dibacakan kepada semua rakyat Amerika: “Beritahukanlah pada dunia masa depan, bahwa di tengah musim dingin, saat apapun tiada kecuali harapan dan kebajikan – bahwa kota dan negara, waspada akan bahaya bersama, akhirnya bersatu untuk menghadapinya.” Amerika; Dalam menghadapi musuh bersama, dalam masa sulit kita ini, mari kita ingat kata-kata emas itu. Dengan harapan dan kebajikan, mari kita hadapi bersama sekali lagi sungai beku ini, dan bertahan dari badai apapun yang akan tiba. Biarkan cucu-cucu kita berkata bahwa kita telah diuji dan kita menolak untuk mengakhiri perjalanan ini, bahwa kita tidak mundur dan mata kita terpaku ke ufuk fajar dan dengan berkat Tuhan, kita meneruskan anugerah kebebasan dan mengantarkannya dengan selamat bagi generasi masa depan. (*)

Gampong Aneuk 2009

Yayasan KKSP telah melakukan kegiatan kemah anak-anak yang bertajuk gampong aneuk pada tanggal 12 – 15 Januari 2009 di tempat rekreasi Geunang Gedong, Desa Putim kec. Kaway 16 Kab. Aceh Barat Prop. Nanggroe Aceh Darusalam.

Konsep ini diharapkan anak-anak dapat belajar berorganisasi, melatih diri untuk menjadi pemimpin, berpartisipasi, berkreatifitas dan bersolidaritas. Sekitar 645 orang anak-anak dari seluruh kabupaten di NAD dan Sumatera Utara hadir dlm kegiatan tersebut.

Gampong aneuk dibuka secara resmi oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan Ibu Mutia Hatta. dan dihadiri oleh jajaran Provinsi NAD, Jajaran kabupaten Aceh Barat.

Di dalam gampong aneuk tersebut terdiri dari berbagai kegiatan,

1. Pemilihan Kepala Dusun Gampong Aneuk.

2. Pemilihan Kepala Desa (Geuchik) Gampong Aneuk.

3. Demonstrasi kreatifitas Warga

a. Pentas Seni Kreatifitas

b. Permainan dan OutBOnd

c. Workshop Musik dan Workshop Lukis

4. Tour Situs sejara Aceh ke Makam Teuku Umar.

5. Pawai Aneuk, yang mengusung thema perlindungan Anak

kegiatan ditutup oleh Sekda Aceh Barat, yang dihadiri beberapa jajaran terkait. kegiatan tersebut telah dilaksanakan dengan baik-baik oleh kerja-kerja panitia yang begitu solid dan begitu kuat. Juga peran beberapa organisasi guna mensukseskan kegiatan gampong aneuk tersebut.

Gampong aneuk punya kisah masing-masing bagi peserta, panitia, para undangan dan steering commite.

(Medan’2009, Alley)

Surat Presidan IRAN Ahmadinejab untuk Presiden US George.W.Bush

Tuan Presiden….

Data-data sejarah menunjukkan bahwa pemerintahan yang berada dalam
jalur kezaliman tidak pernah bertahan lama. Tuhan tidak menyerahkan
nasib manusia di tangan penguasa zalim. Tuhan tidak membiarkan dunia
dan manusia begitu saja. Bukankah sudah banyak kejadian yang bertolak
belakang dengan rencana-rencana para penguasa. Kejadian-kejadian
sejarah menunjukkan bahwa ada kekuatan misterius di atas segalanya di
balik semua ini yang mengatur semua hal.

Tuan George. W. Bush Presiden Amerika Serikat…

Dalam beberapa waktu Saya sempat berpikir, bagaimana bisa kontradiksi
yang tidak dapat diingkari dalam kancah dunia internasional ini, di
mana masyarakat dan pada khususnya di kalangan politik dan mahasiswa,
dapat di benarkan. Banyak sekali pertanyaan-pertanya an tentang hal ini
yang tak terjawab. Karena itu saya kemudian memutuskan agar sebagian
dari kontradiksi dan pertanyaan-pertanya an itu bisa saya tanyakan.
Mungkin akan ada kesempatan untuk membenarkan masalah tersebut.

Apakah bisa; pengikut Nabi Isa A.S. sebagai salah satu Nabi besar
ilahi dapat berpegang teguh dengan hak-hak asasi manusia dengan
menjadikan Liberalisme sebagai model peradaban dengan memperluas
persenjataan nuklir dan pembunuhan massal untuk menunjukkan
ketidaksetujuannya dan menjadikan peperangan melawan terorisme sebagai
slogannya?

Pada akhirnya, untuk membentuk masyarakat yang satu dan universal
tetap harus diusahakan. Sebuah masyarakat yang akan diperintah oleh
Nabi Isa A.S. dan orang-orang baik di muka bumi.

Namun pada saat yang sama;

Negara-negara diserang. Jiwa, kehormatan, keberadaan orang-orang dan
nilai-nilai kemudian runtuh. Sebagai contoh, hanya dikarenakan adanya
sebuah kemungkinan keberadaan beberapa orang pelaku kriminal di sebuah
desa, kota atau bersama sebuah iring-iringan, seluruh desa, kota dan
iring-iringan harus dibabat habis.

Atau dengan kemungkinan keberadaan senjata pemusnah massal di sebuah
negeri lalu negeri tersebut dikuasai? Sekitar ratusan ribu masyarakat
negara itu harus tewas. Sumber-sumber air, pertanian dan industri
rusak dan sekitar 180.000 pasukan militer tinggal di sana.

Kehormatan yang dimiliki oleh rumah-rumah masyarakat telah dihancurkan
dan mungkin sekitar lebih dari 50 tahun sebuah negara menjadi
terkebelakang. Dengan anggaran belanja seperti apa? Dengan
menghabiskan miliaran dolar dari harta kekayaan sebuah negara dan
sebagian negara yang lain atau dengan mengirimkan puluhan ribu pemuda
sebagai pasukan penyerang. Meletakkan mereka di tempat pembunuhan
serta menjauhkan mereka dari keluarganya, mengotori tangan mereka
dengan darah orang lain, menekan jiwa mereka sehingga setiap hari
sejumlah dari mereka melakukan tindakan bunuh diri. Ketika mereka
kembali ke negara mereka masing-masing tersiksa dan tertekan di sertai
dengan penyakit yang beragam. Sebagian lainnya telah terbunuh dan
jenazah mereka telah diterima oleh keluarga mereka.

Hanya dengan alasan adanya senjata pemusnah massal, sebuah tragedi
besar telah tercipta baik untuk masyarakat yang negaranya dijajah atau
penjajah. Sementara pada akhirnya jelas bahwa senjata pemusnah massal
tidak pernah ada.

Namun tetap saja bahwa Saddam Husein adalah seorang diktator dan
pembunuh. Namun tujuan peperangan yang dilakukan bukan untuk
menumbangkannya tapi usaha untuk menemukan senjata pembunuh massal
yang sudah diumumkan sebelumnya. Saddam dalam rangkaian ini telah
tumbang. Masyarakat sekitarnya merasa senang dengan tumbangnya Saddam.
Pada peperangan yang dipaksakan kepada Iran, Saddam di bantu dan
dibela oleh Barat.

Tuan Presiden…

Mungkin Anda telah tahu bahwa saya hanya seorang dosen. Mahasiswa saya
sering mempertanyakan bagaimana aksi-aksi yang ada ini disesuaikan
dengan nilai-nilai yang telah disampaikan di awal surat saya dengan
agama Nabi Isa A.S. seorang Nabi perdamaian dan kasih sayang?

Mereka yang tertuduh dan dipenjara Guantanamo yang tidak bakal diadili
secara adil, tidak memiliki akses untuk mendapat pembelaan dari
seorang pengacara. Keluarga mereka tidak diperkenankan untuk melihat
mereka dan di luar dari negaranya sendiri diisolir sementara tidak ada
pengawasan internasional untuk mereka. Tidak jelas posisi mereka;
apakah mereka adalah dipenjara, tawanan perang, tertuduh ataukah
orang-orang yang telah dihukum?

Para pengawas Uni Eropa mengakui adanya penjara-penjara misterius di
Eropa. Saya tidak dapat menerima penculikan dan penahanan orang-orang
di penjara-penjara misterius itu tanpa adanya sebuah sistem peradilan
yang berlaku di dunia. Dan saya tidak pernah mengerti bagaimana
aksi-aksi yang telah dilakukan sesuai dengan nilai-nilai yang telah
saya sebutkan di atas. Dengan ajaran-ajaran Nabi Isa A.S. ataukah
hak-hak asasi manusia ataukah dengan nilai-nilai Liberalisme?

Para pemuda, mahasiswa dan masyarakat banyak mempertanyakan tentang
fenomena bernama Israel. Pasti sebagian dari pertanyaan-pertanya an itu
telah Anda dengar. Dalam sejarah tercatat banyak negara yang telah
dijajah. Namun salah satu fenomena kontemporer masa kita adalah sebuah
pembentukan negara baru dengan masyarakat yang baru pula.

Para mahasiswa berkata, 60 tahun yang lalu tidak pernah ada negara
dengan nama ini. Dokumen-dokumen dan peta geografi dunia yang lama
ditunjukkan oleh mereka sambil berkata, kami telah berusaha sedemikian
rupa mencarinya namun kami tidak menemukan sebuah negara yang bernama
Israel.

Saya terpaksa menuntun mereka agar mempelajari lagi tentang perang
dunia pertama dan kedua. Sekali waktu seorang mahasiswa berkata, pada
perang dunia kedua puluhan juta manusia tewas. Berita-berita perang
dengan cepat disebarkan dari kedua belah pihak yang berperang.
Masing-masing memberitakan kemenangannya dan kekalahan lawan. Setelah
perang dunia kedua selesai mereka mengklaim bahwa ada enam juta orang
Yahudi tewas. Enam juta orang yang sekurang-kurangnya dari dua juta
kepala keluarga.

Kita andaikan saja bahwa berita ini benar. Apakah kesimpulan logisnya
adalah pembentukan sebuah negara Israel di kawasan Timur Tengah dan
atau membela mereka habis-habisan? Bagaimana menganalisa dan
menginterpretasikan fenomena semacam ini?

Tuan Presiden…

Anda pasti telah mengetahui dengan anggaran belanja dan pesan-pesan
yang seperti apa sehingga Israel terbentuk;
· Dengan terbantainya ribuan jiwa.
· Dengan mengungsikan jutaan jiwa penduduk asli kawasan.
· Dengan penghancuran ratusan ribu hektar sawah, kebun zaitun dan
penghancuran kota-kota dan tanah-tanah subur.

Tragedi ini tidak hanya terbatas pada masa pembentukan saja. Sangat
disayangkan selama 60 tahun hal ini berjalan dan akan terus berlanjut.

Rezim yang dibentuk ini bahkan tidak memiliki rasa belas kasihan
terhadap anak-anak. Rumah-rumah dihancurkan, rencana teror tokoh-tokoh
Palestina dengan terlebih dahulu mengumumkannya serta memenjarakan
ribuan orang-orang Palestina. Fenomena ini pada abad-abad terakhir
bila tidak dikatakan sulit dicari tandingannya maka tentunya tidak ada
bandingannya.

Pertanyaan besar lainnya dari kebanyakan masyarakat adalah ini.
Mengapa rezim yang seperti ini masih harus dibela?

Apakah pembelaan rezim yang semacam ini merupakan salah satu ajaran
Nabi Isa A.S. atau sesuai dengan nilai-nilai Liberalisme?

Dan apakah memberikan hak untuk menentukan nasib sendiri di tanah
Palestina kepada pemilik aslinya baik yang tinggal di Palestina maupun
di luar dan baik mereka itu Islam, Yahudi dan atau Kristen,
bertentangan dengan demokrasi, hak-hak asasi manusia dan ajaran-ajaran
para Nabi?

Bila tidak bertentangan mengapa usulan referendum tidak pernah disetujui?

Akhirnya dengan pilihan rakyat Palestina telah terbentuk pemerintahan
di tanah Palestina. Semua pengawas yang tidak memihak mengukuhkan
bahwa pemerintah terpilih dipilih oleh rakyat. Dengan tanpa disangka
pemerintah terpilih ditekan sedemikian rupa agar menerima negara
bernama Israel dan tidak lagi meneruskan perjuangan serta melanjutkan
program pemerintah sebelumnya.

Seandainya pemerintah terpilih saat ini sejak awal mengumumkan
kebijakannya seperti yang diinginkan, apakah masyarakat Palestina akan
memilih mereka? Apakah sikap yang semacam ini di hadapan pemerintah
Palestina sesuai dengan nilai-nilai di atas? Demikian pula masyarakat
bertanya-tanya, mengapa resolusi PBB yang telah diputuskan di dewan
keamanan PBB terhadap Israel selalu diveto?

Tuan Presiden…

Anda mengetahui bahwa saya hidup bersama rakyat dan punya hubungan
dengan mereka. Kebanyakan dari masyarakat Timur Tengah, yang dengan
berbagai bentuk, melakukan hubungan dengan saya. Mereka melihat
kebijakan ganda yang ada ini tidak sesuai dengan logika apapun.
Bukti-bukti menunjukkan bagaimana kebanyakan masyarakat di kawasan
dari hari ke hari semakin marah dengan kebijakan yang dilakukan.

Saya tidak bermaksud untuk menyampaikan banyak pertanyaan, namun saya
ingin menunjukkan beberapa poin yang lain.

Mengapa setiap kemajuan keilmuan dan teknologi di kawasan Timur Tengah
dianggap dan di promosikan sebagai ancaman terhadap rezim Israel?
Apakah usaha ilmiah dan penelitian bukan merupakan hak-hak dasar
masyarakat?

Kemungkinan Anda memiliki pengetahuan tentang sejarah. Selain abad
pertengahan pada bagian mana dari sejarah dan di mana, kemajuan ilmu
dan teknologi dianggap sebagai sebuah kejahatan? Apakah dengan
mengandaikan kemungkinan dipakainya ilmu dan teknologi untuk
maksud-maksud militer dapat menjadi alasan untuk menentang ilmu dan
teknologi? Bila kesimpulan yang demikian adalah benar, maka seluruh
ilmu harus ditentang bahkan fisika, kimia, matematika, kedokteran,
arsitektur dan lain-lain.

Dalam masalah Irak telah terjadi kebohongan. Hasilnya apa? Saya tidak
ragu bahwa semua manusia meyakini bahwa kebohongan adalah hal yang
tidak terpuji. Anda sendiri tidak akan senang bila orang lain berdusta
terhadap Anda.

Tuan Presiden…

Apakah masyarakat di Amerika Latin memiliki hak untuk mempertanyakan
mengapa selalu ada usaha untuk tidak menyetujui pemerintahan terpilih
dari rakyat dan pada saat yang sama adanya pembelaan bagi mereka yang
ingin melakukan kudeta terhadap pemerintahan terpilih. Mengapa ancaman
selalu diarahkan kepada mereka?

Masyarakat Afrika adalah masyarakat yang punya etos kerja, kreatif dan
memiliki potensi. Mereka dapat berperan penting dalam menjamin
kebutuhan dan kemajuan materi dan maknawi masyarakat dunia. Kemiskinan
dan kepapaan di sebagian besar Afrika menjadi kendala terbesar untuk
dapat memainkan peran penting tersebut.

Apakah mereka berhak untuk mempertanyakan, mengapa kekayaan luar biasa
dan barang tambang mereka dijarah padahal mereka lebih membutuhkan
dari orang lain? Apakah aksi-aksi semacam ini sesuai dengan ajaran
Nabi Isa dan hak-hak asasi manusia?

Masyarakat Iran yang berani dan beriman juga memiliki banyak
pertanyaan. Salah satunya; Kudeta 28 Murdad terhadap pemerintahan
waktu itu pada lima puluh dua tahun yang lalu, berhadap-hadapan dengan
revolusi Islam dan menjadikan kedutaan Amerika menjadi markas besar,
dengan memiliki ribuan dokumen, yang membela mereka yang tidak setuju
dengan Republik Islam, melindungi Saddam Husein dalam perang terhadap
Iran, penembakan pesawat penumpang Iran, menyandera harta masyarakat
Iran, ancaman-ancaman yang semakin meningkat dengan menunjukkan
ketidaksetujuan serta kemarahan atas kemajuan ilmu dan teknologi serta
nuklir masyarakat Iran, padahal semua orang Iran gembira dengan
kemajuan negara mereka dan mengadakan acara untuk keberhasilan mereka.
Masih banyak lagi pertanyaan yang semacam ini dan untuk menjelaskannya
di surat ini tidak saya cantumkan.

Tuan Presiden…

Peristiwa 11 September benar-benar merupakan peristiwa yang
mengerikan. Pembunuhan terhadap orang-orang tak berdosa di bagian mana
saja dari dunia ini selalu menyakitkan dan sangat disayangkan.
Pemerintah kami pada waktu itu mengumumkan rasa kebencian terhadap
pelaku kejadian dan sekaligus mengucapkan belasungkawa kepada mereka
yang ditinggalkan.

Semua negara memiliki kewajiban untuk melindungi jiwa, harta dan
kehormatan rakyatnya. Seperti yang dikatakan bahwa negara Anda
memiliki sistem keamanan, penjagaan dan informasi yang luas dan
canggih. Bahkan para penentang yang berada di luar negeri pun diburu.
Operasi 11 September bukan operasi yang mudah. Apakah konsep dan
pelaksanaan operasi tersebut dapat bekerja tanpa kerja sama dengan
sistem informasi dan keamanan dan atau pengaruh yang luas di sana
dapat terjadi? Tentunya ini hanya sebuah kemungkinan dari orang-orang
yang berpikiran logis. Mengapa sisi-sisi lain dari kejadian ini tetap
misterius? Mengapa tidak ada penjelasan resmi bahwa siapa yang
bertanggung jawab atas kelalaian ini? Dan mengapa para pelaku dan
mereka yang lalai tidak diumumkan dan dihukum?

Tuan Presiden…

Salah satu kewajiban pemerintah adalah mewujudkan keamanan dan
ketenangan kepada rakyatnya. Masyarakat negara Anda dan negara-negara
tetangga poros krisis dunia selama bertahun-tahun tidak lagi merasakan
keamanan dan ketenangan.

Setelah peristiwa 11 September bukannya meredam jiwa dan menenangkan
mereka yang terkena musibah. Masyarakat Amerika adalah yang paling
menderita akibat kejadian tersebut sementara sebagian dari media Barat
malah membesar-besarkan kondisi tidak aman dan senantiasa mengabarkan
adanya kemungkinan serangan teroris dan mereka sengaja menjaga agar
masyarakat senantiasa dalam kondisi takut dan khawatir. Apakah ini
namanya melayani rakyat Amerika? Apakah kerugian yang berasal dari
ketakutan dan kekhawatiran dapat dihitung?

Coba gambarkan! Rakyat Amerika merasa bakal ada serangan. Di jalanan,
tempat kerja dan di rumah mereka merasa tidak aman. Siapa yang dapat
menerima kondisi seperti ini? Mengapa media bukannya memberitakan
hal-hal yang dapat menenangkan dan memberikan keamanan malah
mengabarkan ketidakamanan?

Sebagian berkeyakinan bahwa iklan besar-besaran ini sebagai fondasi
dan alasan untuk menyerang Afghanistan. Bila sudah begini kiranya baik
bila saya berikan sedikit petunjuk terkait dengan media.

Dalam prinsip dasar media, penyampaian informasi yang benar dan
menjaga amanat dalam menyebarkan berita adalah dasar yang manusiawi
dan diterima. Saya merasa perlu untuk mengucapkan dan mengumumkan rasa
penyesalan yang dalam atas ketiadaan rasa tanggung jawab sebagian
media Barat dengan kewajiban ini. Alasan asli agresi ke Irak adalah
adanya senjata pemusnah massal. Tema ini diulang-ulang sedemikian rupa
sehingga masyarakat percaya dan menjadi dasar untuk menyerang Irak.

Apakah kebenaran tidak akan hilang pada situasi yang dibuat-buat dan
berisi kebohongan?

Apakah hilangnya sebuah kebenaran sesuai dengan tolok ukur yang telah
dijelaskan sebelumnya?

Apakah kebenaran juga akan hilang di sisi Tuhan?

Tuan Presiden…

Di semua negara masyarakatlah yang menanggung anggaran belanja
negaranya sehingga pemerintah dapat melayani mereka. Pertanyaannya di
sini, dengan anggaran tahunan ratusan miliar dolar pengiriman pasukan
ke Irak apa yang didapat oleh masyarakat?

Anda sendiri mengetahui bahwa di sebagian negara bagian Amerika
masyarakat hidup dalam kemiskinan. Ribuan orang tidak memiliki rumah.
Pengangguran adalah masalah besar dan masalah ini kurang lebih terjadi
juga di negara-negara lain. Apakah dalam kondisi yang seperti ini
pengiriman sejumlah besar pasukan dan itu pun dengan anggaran luar
biasa dari masyarakat dapat dibenarkan dan sesuai dengan dasar-dasar
yang telah disebutkan sebelumnya?

Tuan Presiden…

Apa yang sudah disebutkan adalah sebagian dari penderitaan masyarakat
dunia; kawasan kami dan masyarakat Anda. Namun maksud asli saya yang
setidak-tidaknya akan Anda benarkan sebagai berikut:

Para penguasa memiliki masa tertentu dan tidak selamanya berkuasa.
Namun nama mereka akan diingat dan tertulis dalam sejarah. Dan di masa
depan, dekat atau jauh, senantiasa dinilai. Masyarakat akan berkata,
dalam periode kita ini apa yang telah terjadi.

Apakah untuk masyarakat kita menyiapkan keamanan dan kesejahteraan
atau ketidakamanan dan pengangguran.

Apakah kita hendak mengukuhkan keadilan ataukah hanya kelompok khusus
yang ingin kita lindungi. Itu pun dengan harga kemiskinan dan kepapaan
sebagian besar masyarakat dunia. Apakah kita akan memilih untuk
mengutamakan sekelompok kaum minoritas dengan segala kekayaan dan
pangkat dan kerelaan mereka ketimbang kerelaan Tuhan?

Apakah kita telah membela hak-hak masyarakat dan kaum miskin ataukah
kita tidak memandang sedikit pun kepada mereka.

Apakah kita membela hak-hak manusia di seluruh dunia ataukah dengan
memaksakan perang dan ikut campur secara ilegal terhadap urusan sebuah
negara dan dengan mengadakan sel-sel yang menakutkan memenjarakan
sebagian orang di sana?

Apakah kita telah berbuat untuk terwujudnya perdamaian dunia ataukah
kita menyebarkan ancaman dan kekerasan di seluruh dunia?

Apakah kita telah berbicara dengan jujur kepada rakyat kita dan
masyarakat dunia ataukah kita malah menunjukkan kebenaran yang telah
diputarbalikkan.

Apakah kita termasuk pembela masyarakat ataukah pembela para penjajah
dan penzalim?

Apakah dalam pemerintahan kita, logika, akal, moral, perdamaian,
mengamalkan perjanjian, menyebarkan keadilan, melayani masyarakat,
kesejahteraan dan kemajuan dan menjaga kehormatan manusia lebih
dipentingkan ataukah kekuatan persenjataan, ancaman, tidak adanya
keamanan, tidak adanya perhatian kepada masyarakat, menahan lajunya
kemajuan masyarakat dunia dan merusak hak-hak manusia?

Pada akhirnya mereka akan berkata, apakah kita masih setia dengan
sumpah yang kita ucapkan dalam rangka melayani masyarakat dan
perjanjian asli kita dan ajaran-ajaran para Nabi ataukah tidak?

Tuan Presiden…

Sampai kapan dunia akan menanggung beban berat ini? Dengan proses yang
semacam ini dunia akan menuju kemana?
· Sampai kapan masyarakat dunia harus menanggung beban
keputusan-keputusan tidak benar dari para penguasa?
· Sampai kapan cakrawala ketakutan harus dihadapkan kepada masyarakat
dunia akibat ditimbunnya senjata pemusnah massal?
· Sampai kapan darah anak-anak, para wanita dan laki-laki harus
mengalir di atas batu-batu jalanan dan rumah-rumah mereka harus
dihancurkan?

Apakah Anda rela dengan kondisi dunia sekarang ini?

Apakah Anda berpikir bahwa kebijakan yang telah ada ini dapat
berlangsung terus?

Bila saja ratusan miliar dolar yang dipakai untuk membiayai keamanan,
pertahanan, pengiriman pasukan dialokasikan sebagai modal dan bantuan
bagi negara-negara miskin, pengembangan kebersihan, berperang melawan
berbagai macam penyakit, penghijauan dan pengentasan kemiskinan dan
keterbatasan, menggalang perdamaian, menghilangkan perselisihan antar
negara-negara, menghilangkan peperangan kabilah dan ras dan lain-lain.
Dapat dibayangkan bagaimana dunia sekarang? Dan apakah pemerintahan
dan rakyat Anda tidak merasa bangga dengan ini?

Apakah posisi politik dan ekonomi pemerintahan dan rakyat Anda tidak
akan semakin kokoh?

Dengan mengucapkan rasa penyesalan penuh, saya harus mengucapkan
apakah ada kenaikan tingkat kebencian masyarakat dunia terhadap
pemerintah Amerika?

Tuan Presiden, saya tidak bermaksud untuk melukai perasaan seorang pun.

Apakah bila hari ini Nabi Ibrahim, Ishaq, Ya’qub, Ismail, Yusuf dan
atau Nabi Isa A.S. hadir di dunia ini dan dengan melihat perilaku yang
semacam ini apa kata mereka? Apakah dunia yang dijanjikan, dunia yang
diliputi oleh keadilan dengan kehadiran Nabi Isa A.S. akan memberikan
kita peran? Apakah mereka akan menerima kita?

Pertanyaan kunci saya di sini; Apakah jalan yang lebih baik dalam
pergaulan dengan masyarakat dunia tidak ada lagi?

Hari ini di dunia ada ratusan juta orang Kristen, ratusan juta orang
Islam dan jutaan lagi orang pengikut Nabi Musa A.S. Semua agama ilahi
dalam satu kalimat bersatu dan itu adalah kalimat tauhid, yaitu
keyakinan akan Tuhan Yang Esa dan selain Dia tidak ada tuhan di dunia ini.

Al-Quran al-Karim menegaskan akan kalimat yang satu ini dan ia
memanggil semua pengikut agama ilahi dengan kalimat ini. Allah berfirman:

“Katakanlah : “Hai Ahli Kitab, marilah kepada suatu kalimat
(ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa
tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan
sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang
lain sebagai tuhan selain dari pada Allah.” (Ali Imran: 64)

Tuan Presiden…

Berdasarkan firman ilahi kita semua diajak untuk menyembah Allah Yang
Esa dan mengikuti utusan-utusan ilahi.

” Penyembahan kepada Tuhan Yang Esa yang Maha kuasa dan berkuasa atas
segala sesuatu”, Allah Yang Maha Mengetahui hal-hal yang tersembunyi
dan tampak, dahulu dan akan datang dan Ia mengetahui apa yang
terlintas di benak hamba-Nya dan Ia mencatat amalan mereka”, “Tuhan
Sang pemilik langit dan bumi dan semua alam di bawah kekuasaan-Nya” ,
“Pengaturan seluruh alam di tangan-Nya dan Ia memberikan janji untuk
mengampuni dosa-dosa hamba-Nya”, Ia penolong mereka yang terzalimi dan
musuh mereka yang menzalimi”, Dia Maha Pengasih dan Penyayang”, “Ia
penolong kaum mukminin dan Ia menuntun mereka dari kegelapan kepada
keterang-benderanga n”, “Ia mengawasi perbuatan hamba-hamba- Nya”, ” Ia
menyerukan hamba-Nya untuk beriman dan berbuat baik dan menginginkan
agar mereka berbuat berdasarkan kebenaran dan untuk tetap istiqamah
dalam kebenaran”, ” Allah menyerukan agar hamba-hamba- Nya untuk
menaati utusan-Nya dan Ia sebagai saksi dan pengawas perbuatan
hamba-hamba- Nya”, “Puncak keburukan terkait dengan orang-orang yang
menginginkan kehidupan yang terbatas di dunia ini dan tidak mengikuti
perintah-Nya dan menzalimi hamba-hamba Allah”, “Puncak kebaikan dan
surga yang kekal hanya akan diberikan kepada hamba-hamba- Nya yang
bertakwa di hadapan keagungan ilahi dan tidak mengikuti hawa nafsunya”.

Kami yakin bahwa kembali kepada ajaran-ajaran para Nabi adalah
satu-satunya jalur kebahagiaan dan kesuksesan. Saya mendengar bahwa
Anda adalah seorang penganut Kristen dan percaya akan janji ilahi akan
adanya pemerintahan orang-orang baik di muka bumi.

Kami juga percaya bahwa Nabi Isa A.S. adalah salah satu Nabi besar
ilahi. Dalam al-Quran Nabi Isa mendapat penghormatan yang luar biasa
dan ini adalah ucapan Nabi Isa A.S. yang dinukil oleh al-Quran:

“Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia
oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus.” (Maryam: 36)

Penghambaan dan ketaatan kepada Allah adalah seruan semua para Nabi.
Tuhan seluruh masyarakat di Eropa, Afrika, Amerika, dan negara-negara
kepulauan, seluruh dunia hanya satu Tuhan dan itu adalah Tuhan yang
memberikan hidayah dan menginginkan kemuliaan bagi semua
hamba-hamba- Nya dan memberikan kehormatan kepada umat manusia.

Dan dalam firman Allah: “Allah Yang Maha Mengetahui dan Tinggi
mengutus para Nabi disertai dengan tanda-tanda yang jelas dan mukjizat
untuk memberi petunjuk kepada manusia. Pengutusan itu agar mereka
menunjukkan tanda-tanda kebesaran ilahi kepada manusia. Dengan begitu
manusia dapat disucikan dari dosa. Allah mengirimkan kitab dan mizan
agar manusia dapat menegakkan keadilan dan dapat meninggalkan
orang-orang yang berbuat zalim”.

Seluruh ayat-ayat dengan bentuk yang mirip ada di kitab suci.

Para Nabi dan utusan ilahi memberikan janji:

Suatu hari nanti semua manusia akan dibangkitkan di hadapan Allah
untuk diperhitungkan amal perbuatannya. Mereka yang berbuat baik akan
diantarkan ke surga. Dan mereka yang berbuat buruk akan menanggung
perbuatannya dengan menerima siksa ilahi. Saya berpikir bahwa kita
berdua sama meyakini akan hari itu.

Tentunya perhitungan para penguasa tidak akan ringan. Hal itu karena
harus menjawab kepada masyarakat dan semua orang atas setiap perbuatan
kita yang ada hubungannya dan memiliki dampak dalam kehidupan mereka.

Para Nabi menginginkan perdamaian, ketenangan berdasarkan
prinsip-prinsip penyembahan kepada Allah, menjaga harkat dan martabat
manusia bagi seluruh manusia.

Bila kita semua meyakini tauhid dan penyembahan kepada Tuhan,
keadilan, menjaga harkat dan martabat serta kemuliaan manusia dan hari
akhir, apakah tidak bisa menyelesaikan problema dunia sekarang yang
diakibatkan oleh kejauhan dari ketaatan kepada Allah dan ajaran-ajaran
para Nabi, dengan prinsip itu dengan lebih baik dan indah?

Apakah keyakinan akan prinsip-prinsip ini tidak memperluas dan
menjamin perdamaian, persaudaraan dan keadilan?

Apakah prinsip-prinsip itu bukan merupakan ajaran tertulis atau tidak
tertulis mayoritas masyarakat dunia?

Apakah Anda tidak ingin mengiyakan seruan ini? Kembali secara hakiki
kepada ajaran-ajaran para Nabi, kepada tauhid dan keadilan, kepada
penjagaan terhadap harkat dan martabat manusia dan kepada ketaatan
terhadap Tuhan dan utusan-utusan- Nya

Tuan Presiden…

Data-data sejarah menunjukkan bahwa pemerintahan yang berada dalam
jalur kezaliman tidak pernah bertahan lama. Tuhan tidak menyerahkan
nasib manusia di tangan penguasa zalim. Tuhan tidak membiarkan dunia
dan manusia begitu saja. Bukankah sudah banyak kejadian yang bertolak
belakang dengan rencana-rencana para penguasa. Kejadian-kejadian
sejarah menunjukkan bahwa ada kekuatan misterius di atas segalanya di
balik semua ini yang mengatur semua hal.

Tuan Presiden…

Apakah tanda-tanda perubahan di dunia kini dapat diingkari? Apakah
keadaan dunia sekarang dengan sepuluh tahun yang lalu dapat
dibandingkan. Perubahan terjadi begitu cepat dan dengan dimensi yang
sangat luas.

Masyarakat dunia tidak rela dengan kondisi dunia kini. Mereka tidak
percaya dengan janji-janji sebagian penguasa paling berpengaruh pun di
dunia.

Sebagian besar masyarakat dunia merasa tidak aman. Mereka tidak setuju
dengan berkembangnya kondisi ini begitu juga dengan perang. Mereka
juga tidak setuju dengan kebijakan ganda.

Masyarakat dunia protes akan adanya jurang pemisah yang dalam antara
mereka yang kaya dan miskin dan antara negara yang sejahtera dan
miskin. Masyarakat semakin membenci kebejatan moral yang semakin
meningkat.

Mayoritas masyarakat di negara-negara merasa tidak puas karena basis
budaya mereka terancam dan institusi keluarga yang berantakan serta
kasih sayang dan cinta kasih yang semakin luntur.

Masyarakat dunia mulai pesimis memandang PBB. Hal itu dikarenakan
hak-hak mereka tidak dipertahankan.

Liberalisme dan Demokrasi Barat tidak mampu mendekatkan manusia kepada
idealisme mereka. Liberalisme dan Demokrasi adalah dua kata pecundang.
Para pemikir dan cendekiawan dunia dengan jelas mendengar suara
runtuhnya pemikiran dan sistem Liberal-Demokrasi.

Hari ini perhatian masyarakat dunia semakin meningkat kepada sebuah
fokus. Dan pusat itu adalah Tuhan Yang Esa. Dan tentunya masyarakat
dengan tauhid dan berpegangan dengan ajaran-ajaran para Nabi akan
dimenangkan atas masalah yang dihadapi. Pertanyaan penting dan serius
saya di sini:

Apakah Anda tidak ingin menyertai mereka?

Tuan Presiden…

Mau tidak mau, dunia sedang mengarah pada penyembahan Allah dan
keadilan dan kehendak Allah akan mengalahkan segala-galanya.

Keselamatan kepada mereka yang mengikuti petunjuk.[Saleh L]

Mahmud Ahmadi Nejad
Presiden Republik Islam Iran

Tehran
07-05-2006

Setetes air kemanusiaan

Rumah Musik menyelenggarakan berbuka puasa bersama dengan aliansi mahasiswa Sastra jepang USU dan mahasiswa Kesejahteraan Sosial – FISIP USU.

Imel “Okashi” telah berkali-kali berkunjung kerumah musik. Dengan membawa bendera organisasi jurnalist mahasiswanya yaitu “okashi” bersedia untuk menyediakan waktu guna menerapkan pelayanan pendidikan buat anak-anak jalanan. Pendidikan yang ditawarkan adalah baca tulis dan berhitung, bahasa inggris dan pengetahuan yang lain dengan methoda yang rekreatif.

Disela proses belajar mengajar tersebut, tercetus sebuah keputusan bersama antara kawan-kawan RUMAHMUSIK dan “OKASHI” untuk membuat kegiatan buka puasa bersama. Semua sepakat, kegiatan dilakukan dirumahmusik bersama anak-anak jalanan dan Okashi menyediakan bahan-bahan berbuka puasanya.

Kegiatan dilaksanakan Jum’at, 19 September 2008 dengan diikuti oleh sekitar 37 orang anak jalanan dari simp. Pos – Medan.

Dengan duduk melingkar dan membaca do’a berbuka puasa bersama telah membuktikan terhapusnya sekat-sekat manusiawi. Disela-sela berbuka puasa, ada kata-kata pembukaan dari masing-masing organisasi, RUMAHMUSIK juga memberikan kata sambutan.

Tidak hanya sebatas itu maknanya, Okashi ternyata organisasi yang baru saja lahir. Di tempat ini (rumah musik) kawan-kawan okashi memotong kue ulang tahun Pertama organisasi mereka.

Setetes air kemanusiaan yang diberikan pada hari ini, telah membuktikan bahwa nilai kemanusiaan untuk memanusiakan manusia begitu tulusnya mengalir dalam kerongkongan anak-anak alam.

Perjuangan nilai kemanusian tidak bisa dilakukan dalam satu malam. (alley)

Rumahmusik dan makna Puasa

 

Ramadhan 1429 H sedang dijalani. Bagi ummat Islam bulan ini penuh rahmat dan berkah. “Berpuasa, berbuat baik dan beramal akan mendapatkan pahala yang berlimpah”.  Puasa adalah latihan mengendalikan hawa nafsu. Puasa adalah upaya mengendalikan diri kita secara lahiriah dan secara batiniah. Secara lahiriah, kita mengendalikan diri dengan mempuasakan seluruh panca indera kita. Dalam ilmu kebatinan, ketika kita melakukan semedi, kita harus menutup tujuh pintu masuk setan. Tujuh pintu itu adalah tujuh lubang dalam tubuh kita. Di antaranya mata, telinga, mulut, dan hidung. Dengan cara itu, kita dapat masuk ke dalam alam kesucian.

 

Ramadhan 1429 H sedang dijalanani dan anak-anak jalanan yang didampingi oleh Yayasan KKSP melaksanakan ritual puasa tersebut. Bulan ini tidak hanya sekedar menahan rasa lapar dan haus, tetapi juga momentum yang diharapkan bisa meningkat rasa solidaritas antar sesama anak jalanan, menguji konsistensi, mengasah kesabaran, dan menjaga utuh kemajemukan.

 

Ritual puasa ini selalu dilaksanakan oleh Yayasan KKSP dengan anak-anak jalanan dampingannya. Kegiatannya adalah berbuka puasa dan makan sahur bersama. Berbuka Puasa disini bukan seperti dilakukan oleh orang-orang yang “PENCARI AMAL” yang mengundang anak jalanan dan melaksanakan berbukanya sekali. Tetapi disini Berbuka Puasanya setiap hari dan beramai-ramai. Keseluruhannya adalah swadaya dari anak-anak jalanan itu sendiri. Anak-anak jalanan yang tidak berpuasa juga memberikan kontribusi swadaya. Solidaritas, konsistensi dan menjaga utuh kemajemukan sedang dilajarkan pada kita. Bagaimana tidak, Puasa hanya mencari pahala yang berganda-ganda, membagi-bagikan kebajikan yang dilakukan hanya pada momentum puasa (ramadhan) saja.

 

Seperti biasa setelah berbuka puasa bersama, masing-masing anak jalanan kembali menyerbu jalanan. Mencari penghidupannya dan memberikan swadaya “untuk sahur” kepada kawan-kawannya yang akan menjalankan ibadah puasa besoknya.

 

Makan sahur disini juga dilaksanakan bersama-sama. Organisasi anak jalanan itupun berfungsi, mengatur siapa yang mengumpulkan uang, siapa yang membeli bahan makanan, siapa yang memasak, siapa yang membangunkan sahur dan siapa yang membersihkan ruangan dan peralatan sesudah sahur.

 

Plurarisme tetap dijaga. Bagi kawan-kawan yang bukan non-Muslim dan ingin berpuasa tetap diberikan kebebasan. Dan kawan-kawan yang tidak berpuasa diharapkan dapat menghargai dan menghormati orang yang sedang berpuasa. Disediakan tempat-tempat tertutup bagi kawan-kawan yang tidak puasa untuk menikmati makan siangnya atau menikmati rokoknya.

Didalam menjalankan puasa, anak-anak jalanan tetap menjalankan aktifitasnya.

Di RUMAHMUSIK (salah satu program pendampingan dan perlindungan anak jalanan) Yayasan KKSP, anak-anak jalanan melakukan diskusi-diskusi ringan tentang keagamaan, lingkup ruang sosial dan budaya, tentang hukum, dan rencana-rencana kedepan (untuk besok dan seterusnya).

 

Untuk tetap menjaga konsistensi, RumahMUSIK tetap melaksanakan ritual melatih rasa dan solidaritas lewat musik. Bermain musik realitas sambil mempertajam dan mengasah talenta musik juga mengasah analisa sosial lewat rytme-rytme lagu.

 

“Semoga Ramadhan ini menjadikan momentum konsistensi, mengolah rasa dan solidaritas kita terutama bagi pendidikan anak-anak jalanan” kata alley salah seorang fasilitator anak jalanan yang bertugas mendampingi anak jalanan dirumahMUSIK.

 

 

 

 

Freire Pendidikan yang Membebaskan

Teori pendidikan telah berkembang dari teori dengan paradigma
konservativisme sampai pada teori berparadigma ekstrem seperti
liberalisme, liberasionisme sampai anarkisme. Teori pendidikan yang
mempengaruhi tema tulisan ini berasal dari teori pendidikan Paulo
Freire, seorang pendidik praksis revolusioner berbasis paradigma
liberasionisme (pembebasan). Gagasan Freire banyak dianggap sebagai
gagasan pembebasan penuh pendidikan institusional dan mengacu pada
pembebasan masyarakat dalam mengenyam pendidikan. Gagasan ini banyak
disetarakan dengan teori anarkis mengenai praktik ajar-mengajar yang
dinilai sudah cenderung menjadi komoditas kapitalistik yang tidak
lepas dari usaha pemenuhan kebutuhan semu terhadap tuntutan
masyarakat semu produk sistem kapitalis. Putar-ulang seluruh gagasan
pendidikan sebagai kritik terhadap sistem dan metode pendidikan yang
sudah baku adalah gagasan para anarkis—dari sini muncul
istilah ‘deschooling society’ yang menyatakan sikap para anarkis.
Freire kemudian sangat dekat dengan para penggagas anarkis ini
terutama karena rasa antipati terhadap sistem kapitalistik dan
karena sifat praksis serta revolusioner Freire.

Tatanan nilai positif Freire dapat disejajarkan dengan tema
pendidikan yang berkembang akhir-akhir ini: apakah institusi
pendidikan berniat mencetak manusia mekanistis, atau berusaha untuk
lebih menghasilkan manusia yang berbudaya? Manusia yang berbudaya di
sini mungkin lebih diarahkan pada peraihan kebebasan dan humanisasi,
sesuai dengan niat Freire.

Beberapa konsep Freire mengenai pendidikan yang membebaskan dan
memanusiakan dapat dilihat di bawah ini:
(1) Pendidikan ditujukan pada kaum tertindas dengan tidak berupaya
menempatkan kaum tertindas dan penindas pada dua kutub
berseberangan. Pendidikan bukan dilaksanakan atas kemurah-hatian
palsu kaum penindas untuk mempertahankan status quo melalui
penciptaan dan legitimasi kesenjangan. Pendidikan kaum tertindas
lebih diarahkan pada pembebasan perasaan/idealisme melalui
persinggungannya dengan keadaan nyata dan praksis. Penyadaran atas
kemanusiaan secara utuh bukan diperoleh dari kaum penindas,
melainkan dari diri sendiri. Dari sini sang subjek-didik membebaskan
dirinya, bukan untuk kemudian menjelma sebagai kaum penindas baru,
melainkan ikut membebaskan kaum penindas itu sendiri. Pendidikan ini
bukan bertujuan untuk menjadikan kaum tertindas menjadi lebih
terpelajar, tetapi untuk membebaskan dan mencapai kesejajaran
pembagian pengetahuan.
(2) Bila pembebasan sudah tercapai, pendidikan Freire adalah suatu
kampanye dialogis sebagai suatu usaha pemanusiaan secara terus-
menerus. Pendidikan bukan menuntut ilmu, tetapi bertukar pikiran dan
saling mendapatkan ilmu (kemanusiaan) yang merupakan hak bagi semua
orang tanpa kecuali.
(3) Kesadaran dan kebersamaan adalah kata-kata kunci dari pendidikan
yang membebaskan dan kemudian memanusiakan.

(dari berbagai sumber)

« Older entries
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.